Esok paginya, cahaya matahari menerobos lembut dari celah tirai, menyapu wajah Meylin yang masih tenggelam dalam kehangatan selimut. Perlahan ia membuka mata. Dalam benaknya, samar-samar muncul kembali adegan semalam, bagaimana Byantara menggendongnya. Begitu jelas sampai pipinya memanas sendiri. Ia menekan pipinya sendiri, berusaha menahan senyum yang tidak bisa dibendung. Aneh rasanya, baru beberapa hari menikah, tapi hatinya terasa lebih hidup dari sebelumnya. Mungkin… mungkin mereka bisa benar-benar dekat suatu hari nanti. Dengan cepat ia bangun, menata rambut seadanya lalu turun ke dapur. Hari ini ia ingin menyiapkan sesuatu yang berbeda. Selain sarapan, ia juga menyiapkan bekal makan siang, seperti kemarin. Dulu ia pikir Byantara akan menolak, atau minimal merasa terganggu.

