Dunia Aira menyusut menjadi lorong waktu yang kabur, didominasi oleh panas yang membakar dan dingin yang menusuk tulang secara bergantian. Selama tiga hari, kesadarannya timbul tenggelam dalam lautan demam tinggi. Dia tidak tahu apakah ini siang atau malam. Yang dia tahu hanyalah rasa sakit di sekujur tubuhnya, seolah-olah setiap sendinya dipukuli palu godam. Namun, di tengah penderitaan fisik itu, ada satu kehadiran yang konstan. Sebuah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut sepenuhnya. Ada tangan besar yang dingin yang menyentuh dahinya, mengganti kompres setiap beberapa jam. Ada aroma musk dan mint yang familiar, aroma yang dulu selalu membuatnya merasa aman, aroma yang kini seharusnya dia takuti, namun dalam ketidakberdayaan ini, justru menjadi satu-satunya hal yang dia cari. Dal

