J-jangan… Sakiti Aku!

1273 Words

Pria bertopeng emas itu, Tuan Sucipto, hanya menahan tatapan Aira selama dua detik. Dua detik yang terasa seperti keabadian, di mana Aira menumpahkan seluruh jeritan batinnya lewat sorot mata. Namun, pria tua itu dengan cepat memutus kontak mata. Dia tidak mengenali Aira. Atau mungkin, dia tidak peduli. Bagi Sucipto, wanita dengan gaun merah di sudut ruangan hanyalah salah satu hiasan pesta, tidak lebih penting dari vas bunga atau patung es di meja prasmanan. Sucipto kembali menoleh pada lawan bicaranya, tertawa lebar hingga bahunya berguncang, lalu mengangkat gelas brandy-nya tinggi-tinggi. Sebuah perayaan di atas penderitaan orang lain. Darah di tubuh Aira mendidih, mengalir deras memacu adrenalin yang menenggelamkan rasa takutnya pada Elvano. Bayangan masa lalu berputar cepat di kep

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD