“Sepertinya matamu yang sudah rabun,” ujar Pramu Atmadja penuh emosi. Pria itu beralih menatap putranya. “Kamu mau beralasan apa? Apa matamu juga sudah rabun? Seperti istrimu?” tanya beruntun Pramu Atmadja. Semua orang di dalam ruangan itu diam. Memperhatikan dan mendengarkan pertengkaran Pramu Atmadja dan orang tua Sultan. Sedangkan Mariana dan Sultan menatap kecewa kedua orang tua mereka. “Jawab, Bagus!” Suara Pramu Atmadja meninggi. “Apa matamu juga sudah rabun, sampai kamu tidak melihat kemiripan Raja dan Sultan? Begitu?” Bagus Atmadja menggeleng. “Aku tidak tahu, Pa. Aku tidak melihat anak itu,” jujur Bagus Atmadja. Saat ini dia harus menyelamatkan dirinya sendiri untuk bisa menyelamatkan istrinya nanti. “Tidak tahu? Kamu pikir aku percaya? Kamu pikir aku tidak tahu kalian berdua

