Cahaya matahari menyusup lembut lewat jendela kamar rawat. Arcelia masih berbaring lemah, rambutnya tergerai lembut, sementara Dante duduk di kursi samping ranjang, menjaga dua bayi mungil yang tertidur pulas di dalam boks kaca. Wajahnya yang biasanya dingin kini benar-benar luluh—senyum yang jarang ia tampilkan terbit begitu saja setiap kali matanya menatap buah hatinya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Suara langkah kecil terdengar terburu-buru sebelum sosok Max menerobos masuk, diiringi Axwel dan Silvana yang tetap anggun dengan mantel birunya. “Mommyyy!” serunya lantang. “Where’s my baby sisters?!” Dante langsung berdiri, menahan anak laki-lakinya yang nyaris berlari menubruk ranjang. “Pelan, Max. Mommy masih sakit.” Max mengerucutkan bibirnya, lalu mengintip ke arah boks. Mata bulat

