Malam itu, kamar terasa sunyi dengan hanya cahaya lampu tidur yang temaram. Arcelia terbaring miring di sisi ranjang, tangannya refleks mengusap perut yang kini begitu besar. Garis wajahnya terlihat menahan sesuatu, sesekali bibirnya mengerucut menahan napas. “Dante…” suaranya pelan, hampir berbisik. Pria itu yang baru saja selesai merapikan beberapa dokumen di meja, langsung menoleh cepat. Alisnya mengernyit begitu melihat ekspresi istrinya. Ia segera berjalan mendekat, duduk di sisi ranjang. “Sayang, apa kamu merasa tidak enak?” tangannya terulur, menggenggam tangan Arcelia dengan hangat. Arcelia mengangguk pelan, wajahnya sedikit tegang. “Perutku… mulas sekali. Rasanya berbeda dari biasanya.” Dante sontak panik, tapi berusaha tetap tenang. Ia menempelkan telapak tangan ke perut ist

