2 • Berdebat Dengan Pak Bos

1492 Words
Pagi belum sepenuhnya merekah ketika sinar matahari pertama menyelinap lembut lewat celah tirai kamar utama rumah megah keluarga Danadyaksa. Suasana masih lengang, hanya terdengar detak jam dinding dan helaan napas berat seorang pria yang baru saja terbangun dari malam panjang yang panas dan penuh gairah. “Aku harus buru-buru pulang, Dante. Jam 7 nanti aku sudah harus berada di lokasi syuting kalau tidak—” “Sutradara sialanmu itu akan mengomelimu. Benar?” potong Dante cepat. “Benar, sayang.” Jam masih menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit pagi hari, namun Caluna sudah sibuk mencari gaun yang semalam dikenakannya. “Oh! Kenapa kamu merobek gaunku, Dante!” protesnya saat menemukan gaun merahnya yang sudah tak berdaya. Dante menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Memperlihatkan badan proporsional yang setengah telanjang. “Kau sangat menggoda dengan gaun merah sialan itu, sayang. Bagaimana aku tidak merobeknya.” Caluna terkekeh, mengambil kemeja putih milik Dante dan memakainya. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah tunangannya itu. “Maafkan aku sayang karena semakin mendekati hari pernikahan kita, aku masih sangat sibuk.” Ia mencium bibir Dante sekilas. “Aku janji ini yang terakhir, sayang. Setelah menikah nanti, aku akan berhenti dari dunia entertain dan fokus menjadi istri serta ibu untukmu dan Max. Wait for me, ya?” Dante meraih pinggang Caluna agar lebih merapat ke tubuhnya. Ia meraih bibir wanita itu dan melumatnya pelan namun dalam. Kembali ia sesap birai kelembutan yang sudah menjadi candunya selama 3 tahun terakhir. Caluna—ia bukan hanya kekasih dan tunangan, tapi dia adalah seseorang yang menyapanya disaat Dante terpuruk karena kehilangan cinta pertama sekaligus istri pertamanya, Indira—ibu Max. Caluna berhasil membuatnya percaya untuk kembali memeluk cinta, merasakan bahagia dan siap untuk membina rumah tangga kedua. “Sampai kapan pun aku rela menunggumu, Caluna Tiffany Lughame. Kau begitu sialan! Bagaimana bisa aku menggilaimu hingga rasanya ingin kembali memasukimu.” Caluna terkekeh. “Aku juga menginginkanmu, Dante. Sangat. Tapi tidak sekarang. Tunggu aku sah menjadi istrimu. Maka kau akan mendapatkan seluruh hidupku. Okay?” “Baiklah.” Dante kembali mencium Kaluna, kali ini hanya sekilas. “Jangan lupa untuk mengkosongkan jadwalmu lusa nanti, Cal. Kita sudah re-schedule jadwal fitting baju 3x. Arcelia akan mendebatku jika sampai itu terjadi untuk keempat kalinya. Kau tahu aku paling malas berdebat dengannya.” “Baiklah, sayang. Katakan pada Arcelia bahwa kali ini aku akan benar-benar mengkosongkan jadwalku. Dan juga sampaikan permintaan maafku padanya, ya. Dia pasti sangat kesal.” Caluna bangkit dari pangkuan Dante yang otomatis mengurai pelukan lelaki itu, kemudian berjalan pada cermin besar yang ada di kamar Dante. Setelah dirasa cukup sempurna, ia meraih tasnya dan menoleh. “I have to go now, sayang. I’ll miss you. So much,” katanya lalu mulai melangkah keluar dari kamar tersebut. 🥂 Di lantai dasar, kedatangan Arcelia langsung di sambut oleh Max yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya bersama sang Papi tercinta. Anak laki-laki itu langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. “Morning, Celia. Kau menepati janjimu, yippiii!” “Morning, Max. Sure. Aku sudah berjanji padamu, bukan?” Ia mendongakkan kepalanya. “Kau tahu? Semalaman aku tidak bisa tidur, Celia. Aku takut Papi akan memberimu pekerjaan mendadak dan tidak bisa mengantarku ke sekolah,” katanya dengan wajah polos. “Jangan berlebihan, Max.” Dante menghampiri keduanya lalu menatap asisten pribadinya. “Celia, Aku dan Caluna sudah sepakat akan melakukan fitting lusa nanti, konfirmasi segera pada pihak butik.” “Oh? Bu Caluna bersedia mengosongkan jadwalnya? Syukur lah. Saya pikir Bapak akan kembali menyuruh saya untuk meminta penjadwalan ulang yang ke 4, 5, atau bahkan 7 mungkin?” “Bisakah kita tidak berdebat pagi ini, Celia?” “Alright, Pak. Saya juga tidak berniat untuk mendebat Bapak. Hanya ... ini seperti sebuah keajaiban langka untuk pekerjaan saya.” Ia terkekeh pelan. Sedangkan Dante menatapnya tajam seperti biaaa, kemudian memutar bola matanya, jengah. “Max, bisa tunggu Celia di mobil? Papi harus berbicara dengannya. Papi janji hanya sebentar.” “Benar?” “Tentu, Max. Please?” “Okay.” Ia kembali menatap Celia. “Jangan lama-lama ya.” Arcelia menyentuh pucuk kepala Max, lalu mengacak-ngacak rambutnya pelan. “I promise.” Setelahnya, Max melepaskan pelukannya pada Arcelia dan berjalan bersama Yura menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Meninggalkan Dante dan Arcelia berdua di ruangan yang menghubungan antara dapur dan ruang tengah. “Ada sesuatu, Pak?” tanya Arcelia membuka suara. “Ya,” jawab lelaki itu pendek. Namun tatapannya masih tajam, pertanda pembicaraan mereka adalah hal yang serius. “Apa Max mengatakan sesuatu padamu kemarin?” “Tentang?” “Semalam, Max mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal, Celia. Dan aku yakin, dia juga mengatakan hal yang sama padamu.” Alih-alih menjawab, Dante lebih memilih untuk berputar-putar, seolah Arcelia harus tahu apa maksud lelaki itu tanpa perlu mengatakannya secara langsung. See, menyebalkan, bukan? “Kemarin Max mengatakan banyak hal, Pak. Saya tidak yakin saya tahu apa yang bapak maksud.” “Celia?” Dante menyipitkan matanya. “Aku tahu kau mengerti.” “Bahwa Max mendapat nilai 100 padahal dia tidak belajar?” “Bukan.” “Max berkelahi dengan temannya yang mengganggu salah satu teman perempuan di kelas?” “Bukan.” “Max yang rela mengabiskan sayur bayam demi bisa mampir ke kedai es krim?” “Tidak, Celia. Bukan yang itu.” Arcelia mendesah tipis. “Ok. Atau ... Max yang mengatakan bahwa dia menyukai teman perempuannya yang bernama Ailisha?” “Demi Tuhan, Celia. Dia bahkan baru berusia 5 tahun.” “Itu yang dia katakan padaku kemarin.” “Bukan yang itu.” “Pak, bisa tolong bapak katakan langsung saja dan berhenti membuat saya menebak-nebak? Saya—” “Apa itu susah, Celia? Bukankah IQ-mu di atas rata-rata, ya?” “Iya tapi apa yang Max katakan kemarin sangat banyak, Pak. Apakah saya juga dibayar untuk mengingat seluruh perkataan Max dan melaporkannya pada Bapak saat Bapak membutuhkannya?” “Celia...” “Pak, saya akan terlambat mengantar Max ke sekolah kalau Bapak terus ngajak saya main tebak-tebakan lho.” “Atau, jika Bapak masih ingin melanjutkan kita bisa—” “Max mengatakan—tidak, dia bertanya apakah aku menyukaimu atau tidak.” “Oh?” Arcelia sama sekali tidak terkejut. “Oke, dan jawaban Bapak?” “Tentu saja tidak. Itu sangat tidak masuk akal, Celia. Aku tidak mungkin menyukaimu—sebagai seorang lelaki kepada seorang wanita bahkan jika di dunia ini hanya kau yang tersisa. No. Never.” Arcelia mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti sama sekali dengan percakapan ini. Iya jelas bosnya itu tidak akan mungkin menyukainya. Betul, itu tidak masuk akal tapi ... Hei! apakah dia benar-benar terpengaruh dengan ucapan anak usia 5 tahun sehingga harus mengkonfirmasi ini padanya? Yang benar saja! batinnya. “Yes. I know. So, di mana masalahnya, Pak?” “Kenapa dia bisa bertanya seperti itu padaku?” “Bapak sedang mengajak saya berdiskusi untuk menemukan apa kira-kira jawabannya, atau Bapak sengaja bertanya pada saya?” “Bertanya padamu. Jangan menguji kesabaran saya, Celia.” Loh? Dari tadi bicara berputar-putar itu, apa bukan menguji kesabaran namanya? “Emmn, kalau Bapak meminta jawaban saya, maka saya tidak tahu Pak, mengapa Max menanyakan hal tersebut. Sudah bertanya pada Max secara langsung?” “Jangan mengalihkan pertanyaan, Celia. Kau pasti tahu sesuatu, kan?” Ia menatap asisten pribadinya tajam. “Apa ini ada hubungannya dengan Caluna?” tanyanya lagi. Arcelia menghela napasnya dalam. “Kemarin, Max hanya mengatakan bahwa dia takut jika Bu Caluna tidak mencintainya. Itu saja.” “Kenapa dia berpikiran seperti itu?” “Pak? Bapak kan Papinya Max, harusnya Bapak yang lebih tahu, bukan? Kenapa malah bertanya kepada saya?” “Saya ingin tahu sudut pandang Max dari apa yang dia katakan pada kamu, Celia. Dia pasti mengatakan sesuatu, kan?” “Sayangnya, tidak ada. Saya tidak bertanya lebih jauh karena itu bukan ranah saya, Pak. I’m not his mother.” “Ya. Dan itu tidak akan pernah terjadi. Jangan pernah terpengaruh dengan apapun yang Max katakan karena saya tidak pernah tertarik kepada kamu, Celia.” “Tentu, Pak. Anda juga bukan tipe, saya.” Acelia menyunggingkan senyum. Cukup untuk membuat Dante terusik dengan respon senyum miringnya. “Bagus.” “Ada lagi yang ingin Bapak tanyakan? Karena saya akan benar-benar terlambat—” “Tidak. Pergilah. Jangan sampai Max terlambat sampai ke sekolah. Dan jika sampai itu terjadi, gaji kamu saya potong.” Sinting! batin Arcelia. Lihat, kan? Jelas-jelas bosnya yang mengajaknya bicara muter-muter dari sabang sampai merauke padahal intinya masih di pulau jawa sampai menghabiskan 20 menit hanya untuk menanyakan hal yang seharusnya bisa ia tanyakan langsung pada Max, bukan dirinya. Jika inti dari percakapn ini adalah bentuk peringatan Dante, maka pria itu salah besar! Tapi ayolah potong gaji jika sampai anaknya terlambat sampai kesekolah bahkan ketika penyebabnya adalah dirinya sendiri, lebih tidak masuk akal daripada sekedar jatuh cinta pada asisten pribadinya sendiri, bukan? Menyebalkan! 🥂
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD