3 • Mencari Arcelia

1488 Words
Kantor Danadyaksa Group sore itu mulai sepi. Lampu-lampu ruangan mulai meredup satu per satu, menyisakan hanya cahaya temaram dari ruang kerja direktur utama. Di sana, Max—anak semata wayang Dante—tampak duduk bersila di sofa panjang, tenggelam dalam dunia legonya. Di sampingnya, Arcelia tetap siaga dengan tablet di pangkuan, sesekali ikut bermain dan melirik jam, lalu kembali mengetik catatan pekerjaan. Sudah hampir pukul tujuh malam saat ponsel Arcelia bergetar. Nama yang muncul membuatnya refleks membetulkan posisi duduk. “Halo, Pak?” sapanya cepat. “Max masih bersamamu?” Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja masih! Apa dia lupa tadi pagi menitipkan anak padanya? Lagipula anak umur 5 tahun mana yang tiba-tiba bisa pulang sendiri sampai rumah? Huh! Meski menggerutu dalam hati, Arcelia tetap menjawab. “Ya. Dia tertidur setelah seharian bermain.” “Baguslah. Kau menjaganya dengan baik.” “Saya selalu melakukannya selama dua tahun ini, kalau bapak lupa,” timpal Arcelia satire. “Apa kau tidak suka aku menitipkan Max padamu, Ce?” “Apakah saya mengatakan demikian Pak Dante?” Arcelia bisa mendengar bossnya mendengus di sebrang telepon. “Sudahlah. Tidak ada gunanya berdebat denganmu, Celia. Aku masih harus lanjut meeting di luar. Antarkan Max pulang. Jangan tunggu aku.” “Alright, Pak.” Klik. Telepon itu pun langsung terputus. Malam menyapa lebih cepat saat Arcelia membawa Max yang sudah terlelap dalam gendongannya. Langkahnya pelan memasuki rumah Dante—bossnya. Disambut kehangatan cahaya temaram dan aroma kayu manis yang samar tercium dari arah dapur. Di ruang keluarga, seorang wanita anggun duduk dengan sikap tenang. Rambut keperakan yang disanggul rapi, wajah yang tak kehilangan wibawa meski waktu terus berjalan—Silvana, ibunda Dante dan nenek tercinta Max. “Arcelia?” sapanya lembut, senyum hangat terukir di wajahnya. “Oh, selamat malam, Bu Silvana. Pak Dante masih meeting di luar dan menyuruh saya untuk mengantar Max pulang,” tutur Arcelia sambil menunduk sopan. Silvana mengangguk. “Tidak apa-apa. Saya akan menunggunya.” “Saya izin menidurkan Max di kamarnya, Bu.” “Tentu, Celia.” Arcelia kemudian menaiki tangga perlahan, membawa Max dengan hati-hati menuju kamar. Ia menyelimutinya dengan lembut sebelum beranjak turun. Di bawah, Silvana sudah menyiapkan secangkir teh. “Duduklah dulu. Hujannya deras sekali,” ucapnya. “Akan sulit mencari taksi sekarang.” Arcelia duduk di sofa dan menerima teh yang disodorkan Silvana dengan dua tangan. “Terima kasih, Bu. Saya memang hendak memesan taksi setelah ini.” “Max bersamamu seharian?” tanya Silvana. Arcelia tersenyum kecil. “Iya, Bu. Pak Dante sibuk di luar seharian sehingga saya menjaganya. Dia aktif, tapi sama sekali tidak merepotkan. Main lego, makan dengan lahap, lalu tertidur di sofa.” Silvana tertawa pelan. “Syukurlah. Aku tahu, dia sangat nyaman bersamamu.” “Bagaimana perkembangan rencana pernikahan Dante dengan Caluna?” tanya Silvana kemudian. “Aku dengar mereka sudah fitting baju kemarin.” “Benar, Bu. Akhirnya Bu Caluna bisa meluangkan waktunya. Bahkan setelah itu, Pak Dante dan Bu Caluna pergi ke toko perhiasan untuk mengambil cincin pernikahan yang sudah dipesan sejak sebulan yang lalu.” Silvana tak langsung menanggapi. Matanya menatap gelas tehnya yang berembun, lalu lirih berkata, “Jadi, akhirnya mereka benar-benar menikah, ya?” Arcelia mengerutkan alis. “Maksud Bu Silvana?” “Ah, tidak. Aku hanya sempat berpikir... semua ini mungkin hanya akan berakhir sia-sia.” Ia tersenyum kemudian kembali bicara. “Dia mencari istri, tapi sepertinya anakku yang bodoh itu lupa kalau yang dia butuhkan bukan hanya seorang istri tapi juga sosok ibu untuk Max.” Arcelia mengangguk. Dia mengerti pemikiran Bu Silvana sebagai seorang ibu yang lebih dulu berpengalaman. Ia paham betul bagaimana kekhawatiran wanita berusia 55 tahun itu tentang calon istri bos-nya yang mana merupakan seorang Artis terkenal. Hidupnya di dunia entertain pasti akan sulit membagi waktu dengan keluarga kecuali jika setelah menikah nanti, Caluna akan berhenti dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. “Mungkin Pak Dante dan Bu Caluna sudah membicarakan masalah tersebut sebelumnya hingga memutuskan untuk menikah?” “Entahlah. Aku harap juga begitu.” Beberapa menit kemudian, suara mobil terdengar berhenti tepat di depan rumah. Dante masuk, melepas jas dan langsung berjalan ke ruang keluarga. “Mama? Kenapa tidak mengabariku jika mau datang?” Silvana mengangkat alis. “Apa harus buat janji dulu untuk mengunjungi rumah anak sendiri?” Dante tersenyum tipis. “Bukan begitu. Hanya... tidak seperti biasanya.” Arcelia kemudian ikut berdiri. “Kalau begitu, saya pamit pulang. Hujannya juga sudah mulai reda.” “Tunggu. Biar sopir antar,” potong Silvana. “Tidak, jangan, Bu Silvana. Saya akan—” “Ini sudah malam,” sahut Dante, setengah mengomando. “Mama benar. Biar Pak Johan yang antar.” Sebelum Arcelia sempat menolak lagi, Silvana sudah memanggil sopir. Tak lama, Pak Johan muncul. “Ya, Bu?” “Tolong antar Arcelia pulang. Pastikan dia sampai dengan selamat.” “Baik, Bu.” Arcelia membungkuk. “Terima kasih, Bu Silvana. Pak Dante. Selamat malam.” Setelah kepergian Arcelia, tinggal lah Dante berdua dengan mamanya. Dante tahu bahwa kedatangan mamanya itu bukan tanpa sebab. Pasti ada sesuatu. Dia duduk di sofa dan langsung to the point. Katanya, “Aku tahu mama ke sini pasti karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan, kan?” Silvana meneguk tehnya, kemudian menyimpan cangkir itu di meja. “Benar.” “Tentang?” “Kamu dan Caluna.” Dante mengernyitkan keningnya, tidak mengerti. “Bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya? Mama bilang Mama menyukainya.” “Benar.” Silvana mengangguk. “Aku tidak pernah berkata bahwa aku tidak menyukai Caluna, right?” Silvana menatap anak pertamanya lekat. “She is kind, nice, and good attutude. Artis terkenal dengan segudang prestasi dan yang paling penting no scandal.” “Then?” “Tapi Dante, kau tahu yang kau cari bukan hanya calon istri tapi juga calon ibu yang baik untuk Max. Caluna mungkin calon istri yang baik, oke, tapi... untuk sekaligus menjadi seorang ibu, apakah dia siap?” “Ma ... Caluna dekat dengan Max. Mereka akrab dan cocok satu sama lain. Jadi, tidak ada alasan untuk Mama meragukan Caluna.” Bohong! “Are you sure, Dante?” “Yeah. Sure. Why?” Bohong yang kedua. “Aku tanya sekali lagi Dante, are you sure?” “Ma? Apa maksud mama sebenarnya?” Silvana menghela napasnya dalam. “Seminggu yang lalu Max meneleponku dengan telepon rumah dan menanyakan bagaimana cara menuang sereal. Aku heran karena setahuku dia sedang bersama dengan Caluna. Saat aku bertanya di mana Caluna, Max bilang bahwa Caluna pergi saat ada telepon dan belum kembali sejak 30 menit yang lalu. Dan Yura? Max bilang Yura juga belum kembali. Caluna katanya sempat menyuruh Yura pergi untuk membeli sesuatu.” Dante tertegun. Dia tidak tahu bagian ini. “Dante, apa kau bisa membayangkan jika Max tidak meneleponku dan tidak ada orang rumah saat itu?” “Ma, itu mungkin kebetulan saja. Dan aku yakin hal yang sama tidak akan terulang lagi.” “Dante!” Silvana menatap tajam anaknya. “Itu hanya satu. Bagaimana jika ada lebih dari itu yang kau bahkan tidak tahu?” “Ma ... Aku dan Caluna sudah sepakat tentang masalah ini. Setelah menikah nanti, Caluna akan berhenti bekerja dan sepenuhnya menjadi istri serta ibu untuk aku dan Max.” “Kau yakin?” “Tentu, Ma.” “Baiklah. Aku hanya ingin memastikan bahwa Max tidak mendapat ibu yang salah.” “Itu tidak akan terjadi. I could guarantee it.” Bersamaan dengan itu, derap langkah kecil menuruni tangga mengalihkan perhatian mereka. Max muncul, mengucek mata, lalu berjalan ke arah neneknya. “Hi, Grandmommy...” “Hi, Max. Kau terbangun? Kemari sayang.” Max mengangguk. Ia kemudian berjalan menghampiri sang nenek dan duduk di pangkuan Silvana. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Where is Celia, Grandmommy? Apa dia sudah pulang?” “Kau terbangun karena tidak menemukan Celia di kamarmu?” Lagi-lagi anak lelaki itu mengangguk. “Aku ingin tidur ditemani Celia, Grandmommy.” “Berhenti mencari Celia, Max. She is not your mother and never will be!” ucap Dante penuh peringatan. “Tapi aku mau Celia, Grandmommy...” rengek Max pada sang Nenek. “Kita kembali ke kamarmu? Grandmommy yang akan menemanimu. Bagaimana?” Namun, Max dengan cepat menggeleng. “Aku ingin Celia. Not Grandmommy!” rengeknya. “Max! Berhenti merengek. Kau tidak akan pernah menemukan Celia di kamarmu!” tegas Dante. Ia melayangkan tatapan tajamnya. “Why, Papi?” Max mulai menangis. Ia mengalihkan pandangannya pada Silvana. “Grandmommy bisakah kita ke rumah Celia dan menginap di sana?” “Max, listen. Kenapa kau sangat menginginkan Celia?” tanya Silvana. “Karena dia baik. Dia selalu menemaniku bermain, membacakan cerita, bembelikanku es krim, memelukku, mendengarkan aku cerita, semuanya....” Silvana lalu melirik pada putranya. “Dante?” “Ya?” “Apa Max pernah mencari Caluna seperti ia mencari Arcelia?” Dan... hening. Dante tidak bisa menjawabnya. 🥂
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD