114. Kekecewaan Dias

1524 Words

Aroma roti panggang dan teh hangat sudah memenuhi ruang makan pagi ini. Kristi, dengan kebiasaan lamanya, selalu memastikan meja makan sudah rapi sebelum anak-anaknya turun. Namun pagi ini, meski makanan tersaji lengkap, hatinya terasa berat. Suara langkah kaki terdengar jelas menuruni tangga. Kaisar muncul dengan wajah kusut, rambut masih sedikit acak-acakan, dan matanya sembab seperti kurang tidur. Ia langsung menghampiri mamanya, menarik salah satu kursi di ruang makan. “Ma…” suaranya serak. “Tolong kasih tau aku di mana Alea?” Kristi menoleh perlahan. Wajahnya tetap tenang meski di dalam dadanya berkecamuk. “Kenapa kamu tanya ke mama?” balasnya datar. “Tumben sekali kamu menanyakan soal Alea. Bukankah kamu sudah mau bercerai? Masih peduli juga kamu sama istri yang sebentar lagi jad

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD