Keesokan harinya, Chandra dan Galih kembali mengunjungi lounge yang semalam menjadi tempat berlangsungnya reuni. Suasana pagi yang sepi kontras dengan keriuhan semalam. Galih langsung menuju resepsionis dengan langkah pasti, sementara Chandra tetap berdiri beberapa langkah di belakang, tangan terkepal di saku celananya. "Permisi, Mas," ujar Galih pada petugas resepsionis dengan suara rendah namun tegas. "Bisa minta tolong untuk melihat rekaman CCTV di koridor menuju toilet?" "Oh, apakah Bapak memiliki surat perintah? Misalnya dar—" "Tolong, Mas. Ini sangat penting untuk menyelamatkan rumah tangga sahabat saya dan nama baik sahabat saya sedang dipertaruhkan." Galih menekankan setiap kata-katanya. Setelah melalui beberapa prosedur, mereka akhirnya diizinkan untuk melihat rekaman tersebut

