Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menyapu wajah Chandra yang masih terlelap. Naina sudah terbangun lebih dulu, matanya menelusuri setiap garis wajah suami yang tampak begitu tenang. Dalam diam, dia mengamati bagaimana napas Chandra yang teratur, bayangan bulu matanya yang jatuh di pipi, dan senyum tipis yang sesekali mengembang di bibirnya. Malam sebelumnya telah menghapus semua sisa kejanggalan antara mereka, menggantikannya dengan kehangatan baru yang terasa lebih dalam dari sebelumnya. "Kita sudah menjadi suami istri," bisik Chandra tadi malam, tangannya menggenggam erat tangan Naina. "Jika ada yang tidak kamu sukai dariku, katakan langsung. Aku pun akan melakukan hal yang sama." Naina tersenyum mengingat percakapan itu. Setelah badai menerpa, mereka seperti memulai

