Naina membimbing Chandra melalui koridor rumah sakit yang sunyi menuju kamar ayahnya. Setiap langkah terasa berat bagi Chandra. Saat pintu terbuka dan matanya menatap sosok Arman yang terbaring lemah, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang menyiksa. Selang oksigen dan monitor yang berkedip-kedip menjadi pengingat pahit betapa keluarga istrinya terguncang karena konflik yang dia picu. "Baru pulang, Chandra?" sapa Arman dengan suara parau, senyum lemah tersungging di bibirnya. Chandra melangkah mendekat ke arah ranjang, sedangkan Naina memilih duduk di sofa. "Iya, Pak. Saya minta maaf." "Kenapa minta maaf, Chandra? Ini sudah takdirnya masa mau menyalahkan orang lain." Lidya yang berdiri di sisi lain tempat tidur menambahkan, "Papanya memang mudah lelah akhir-akhir ini. Dokter bilang perlu

