Malam itu, ruang makan hanya diisi bunyi sendok yang sesekali berdenting lembut. Naina dan Chandra duduk berhadapan, namun seolah terpisah oleh tembok tak kasat mata. Masing-masing tenggelam dalam lautan pikiran mereka sendiri. Chandra memainkan nasi di piringnya dengan sendok, matanya kosong menatapi makanan yang separuhnya belum disentuh. Di benaknya, dia terus mengulang rencana pertemuan besok sore, bagaimana dia akan membersihkan namanya, meyakinkan semua orang bahwa hatinya hanya untuk Naina. Kenangan masa lalu dengan Livia terasa seperti bayangan yang terus mengganggu, meski yang dia inginkan sekarang hanyalah kehidupan tenang bersama wanita di hadapannya. Dari sudut matanya, Chandra memperhatikan Naina yang menikmati makan malamnya dengan tenang. Ketenangan itulah yang justru memb

