Entah jam berapa Aryan tidak tahu, ketika pintu kamarnya digedor-gedor dari luar. Dia menggeram marah karena tidurnya terusik, apalagi istrinya mulai menggeliat terganggu suara berisiknya. “Sialan! Siapa sih?!” umpatnya terpaksa bangun. Aryan duduk dengan mata mengeryip mencoba melihat jarum jam di samping lampu tidurnya. Hampir jam sembilan, tapi kan ini hari minggu dan semalam mereka kurang tidur. Siapa juga yang berani mengusiknya. Dia celingukan mencari celana pendeknya, tapi belum juga ketemu suara gedoran pintu kembali terdengar membuatnya naik pitam. “Sebentar!” Celananya ketemu di lantai dekat sofa, setelah selesai dengan urusan yang satu itu dia melangkah malas ke arah pintu. Dia sudah greget ingin mendaprat biang rusuhnya, namun begitu dibuka muka keruh Aryan langsung berbin

