Mereka sempat terdiam mendengar ucapan Ibra yang menohok. Meski tidak tahu sindiran itu ditujukan ke siapa, tapi melihat muka Ibra sepertinya dia sedang marah. Freya melirik ke Lovia, lalu matanya berubah menusuk begitu bertubrukan dengan Hena. Tidak usah bertanya, dia paham siapa yang dimaksud suaminya. “Sebegitu sulitnya untuk sadar posisi,” sindirnya ketus. “Frey!” tegur Via, sedang Sasha, Sifa dan Xena hanya diam. Mereka seperti mulai bisa meraba. Freya itu pendiam, kalau sudah sampai bicara tajam berarti memang keterlaluan. “Mau makan apa, Key? Tante Xen ambilin,” tawar Xena ke keponakannya itu. “Nggak lapar, tadi sudah makan di rumah nenek.” sahutnya menggeleng. Mereka kembali duduk berkumpul di teras, tapi Key kemudian malah beranjak dari samping papanya dan menghampiri Cello,

