Aula resepsi diterangi cahaya keemasan. Lampu-lampu kristal memantulkan kilau lembut di setiap sudut, berpadu dengan ornamen khas Turki—motif geometris halus, kain berwarna gading dan emas, serta rangkaian bunga putih yang menjuntai elegan. Atas permintaan Leyla, malam ini tak hanya menjadi perayaan, tapi juga jembatan dua darah yang kini menyatu. Alunan musik tradisional Turki mulai terdengar. Ritmenya pelan, lalu menguat. Zeybek. Para penari memasuki ruang dengan langkah tegas—d**a terbuka, bahu tegak, gerak yang sarat makna tentang kehormatan dan keberanian. Di tengah panggung kecil, Linggar berdiri menghadap sang istri. Kemeja putihnya bersih dan rapi, vest hitam membingkai tubuhnya dengan elegan, jas putih jatuh sempurna di bahu—wajah Jawa-Turkinya kian memikat di bawah sorot lampu

