Ayu berdiri tegak di hadapan mereka semua. Yang sedang menunggu kalimat lanjutan dari Raden Ayu. Pendopo Wicaksana yang selama ini menjadi saksi hidupnya—bahagia, runtuh, bangkit—kini kembali menjadi tempat ia memilih. Bukan dengan paksaan. Bukan dengan luka. Tapi dengan kesadaran penuh. Raut harap-harap cemas terpampang di wajah tampan Linggarjati. Meski dia sudah mencoba menutupi rasa gugupnya dengan tersenyum lembut ke arah Ayu. Di temoatnya berdiri Ayu menautkan jemarinya di depan, lalu menunduk dalam pada Eyang Wicaksana. “Eyang…” suaranya lembut, namun jelas. “Ayu sudah mempertimbangkan semuanya. Dengan kepala dingin. Dengan hati yang jujur.” Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Ayu menerima niat baik keluarga Tanumaja.” Nada suaranya bergetar tipis. “Dan… Ayu bersedia melangkah be

