Undangan itu datang tanpa suara. Amplop dengan warna krem bersegel sederhana, berlogo keluarga Tanumaja, tergeletak rapi di meja kerja Raden Arya. Namanya tertulis jelas—tanpa embel-embel apa pun selain kehormatan. Undangan akad nikah. Atas nama: Linggarjati Emir Tanumaja & Raden Ayu Kirana Ratnadewi. Arya membacanya perlahan. Ya.. Dia baru akan membacanya saat amplot itu dia bawa puoang ke pendopo utama. Tak ada yang bergetar di tangannya. Hanya ada satu tarikan napas panjang—seolah udara di dadanya akhirnya dilepas. Sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum bahagia. Bukan pula senyum sedih. Mungkin bisa disebut dengan senyum kecut. Mencoba menerima, yang memang dia sudah mengerti jika ini ujungnya. Tak ada rasa sakit yang sesakit sebelumnya. Linggar yang sudah pernah meminta izin padany

