18 | Alana vs Serenea

2369 Words

“Tak ada yang lebih menyakitkan daripada dipermainkan oleh seseorang yang tak pernah kita sangka akan menjadi penyebab derita paling utama.” —— Sejak semalam, kamar kos itu menjadi saksi bisu dari jiwa yang porak-poranda. Tirai jendela tertutup rapat, menyembunyikan matahari yang enggan menembus kabut duka yang menggulung di dalamnya. Di pojok ranjang, Nea duduk berselimut sepi, matanya kosong, kulit pipinya dingin dan masih basah oleh sisa air mata yang selalu saja berderai tanpa diminta. Ponselnya masih menyala. Lagu dari daftar putar acak terus mengalun, mengisi kehampaan dengan nada-nada yang terasa terlalu jujur. Tepat ketika d**a Nea terasa sesak oleh napas yang tertahan, suara Wira Nagara mengalun lirih: Nyatanya dia... hanya ingin... ditemani... bukan dilengkapi... Tubuh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD