17 | Patah Hati Terhebat

2936 Words

“Malam itu, cinta tak pergi dengan keinginan—ia menghilang perlahan, menetes dari luka yang tidak sempat dipeluk untuk sekedar menyembuhkan.” —— Sore itu terasa tenang. Hujan baru selesai turun, menyisakan udara segar yang masuk lewat jendela terbuka. Aromanya khas—campuran tanah basah, daun yang masih menetes, dan entah kenapa… Nea selalu suka suasa setelah hujan. Tenang, seolah memeluknya dengan nyaman. Nea duduk bersila di kursi belajarnya. Hoodie abu-abu menutupi tubuhnya yang masih dingin sehabis mandi. Rambutnya belum kering sepenuhnya, dibiarkan mengurai seadanya. Di meja, laptop terbuka dengan dokumen skripsi yang menatapnya sabar—bab hasil penelitian yang mulai ditulisi ulang secara teliti. Ada sisa dua potong pizza di atas piring putih, dan secangkir teh madu yang belum disen

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD