4 | Daska, Rahasia, & Rencana Kecilnya

2468 Words
Hujan baru saja reda. Sisa-sisa rinainya masih menempel di jendela besar ruang kerja, menciptakan pola abstrak yang bergerak perlahan saat angin mengalir dari celah kisi-kisi atas. Aroma tanah basah menyusup masuk bersama udara dingin, menyatu dengan wangi khas kayu tua dan kopi hitam yang mendingin di atas meja. Edgara Daskarendra duduk tenang di kursi kulit coklat tua, laptop terbuka di hadapannya. Namun, matanya tidak lagi menatap layar. Sejak pagi, pria itu lebih banyak termenung, membiarkan pikirannya menyusuri lorong-lorong yang tidak tertulis dalam jurnal akademik. Membiarkan kepalanya dipenuhi oleh satu nama yang bahkan ia sendiri belum tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya. Satu nama yang seketika merubahnya menjadi pria yang kini lebih mengikuti egonya daripada logika. Pria yang diam-diam merasakan jatuh cinta dan ketertarikan yang begitu hebat menariknya untuk selalu mendekat pada gadis itu. Serenea Elaris. Pintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan. Menampilkan seorang wanita dengan cardigan abu dan rambut dikuncir asal-asalan masuk sambil membawa dua gelas kopi. “Tumben nggak keluar hari ini,” sapa Cavina, meletakkan salah satu gelas ke meja tanpa minta izin. “Bosen jadi dosen ganteng yang ditunggu-tunggu mahasiswa, kah?” godanya, tanpa terlewat. Daska menoleh sekilas. “Hari ini nggak ada kelas, nggak ada bimbingan. Aku kerja di rumah.” “Kerja?” Wanita berusia 29 tahun itu mengangkat alis, lalu duduk di sofa seberang. “Tapi yang aku lihat Mas lebih banyak melamun sambil sesekali senyum sendiri tuh!” godanya. Daska tersenyum tipis. Tapi tangan kirinya spontan meraih gelas kopi yang dibawa adiknya. “Kamu memang selalu segini cerewetnya, ya?” “Mas tahu aku akan selalu cerewet kalau masalah gadis yang Mas Daska taksir,” katanya dengan senyum riangnya. “Jadi, dia gadis yang bernama Serenea Elaris? Yang tiga bulan terakhir ini memenuhi kepala Mas sampai Mas cari datanya? Yang bikin Mas mutusin resign dan balik ke kampus?” Daska kembali meneguk kopi yang masih berada di genggaman tangannya, kemudian meletakkan kembali di atas meja. Benar, semua yang dikatakan oleh Cavina adalah sebuah kebenaran yang tidak akan Daska sangkal. Ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa bersikap seperti itu di usianya yang kini menginjak 31 tahun? Sebelumnya Daska memang seorang dosen yang mengajar di salah satu kampus. Ia lebih suka menjadi dosen daripada menjalankan perusahan orangtuanya. Namun saat insiden itu terjadi 2 tahun lalu, Daska memutuskan untuk ikut andil dalam perusahaan keluarga. Dan ... hal yang tak pernah ia duga terjadi begitu cepat dalam hidupnya. Malam itu, mengantarkan Daska pada keresahan dan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah pencarian yang singkat, tanpa banyak berpikir Daska memutuskan untuk kembali ke kampus. Demi satu gadis. “Dan kamu tidak pernah sabar menunggu Mas memperkenalkannya kepadamu,” ujarnya sarkas. Namun Cavina hanya terkekeh. Kejadian beberapa hari lalu itu memang bukan sebuah kebetulan. Ia telah merencanakan segalanya dengan sangat matang karena begitu tidak sabarnya ingin mengetahui secara langsung bagaimana sosok gadis yang berhasil mencuri perhatian kakaknya itu. Sehingga Cavina datang ke kampus untuk menemui Daska hari itu, dan keberuntungan benar-benar berpihak padanya kala itu. Di waktu yang tepat, ia bertemu secara langsung dengan sosok gadis cantik dan menawan yang mana itu adalah Serenea Elaris. Gadis yang mengganggu pikiran sang Kakak tiga bulan terakhir. “Dia cantik, terlihat menawan dan menarik. Pantas saja Mas jatuh cinta sama dia,” tutur Cavina jujur. Daska menaikkan satu alisnya. “Apa aku terlihat begitu jatuh cinta? Kamu mengatakkannya seolah-olah aku pria berusia 24 tahun yang baru menemukan cintanya.” “Apa Mas Daska tidak menyadarinya?” “Aku merasa tidak melakukan hal yang berlebihan,” sangkalnya. “Apa adikmu ini harus kembali melemparkan semua tingkah kekanakanmu akhir-akhir ini? Hei bung, tolonglah. Pria matang mana yang terus memikirkan gadis yang bahkan hanya bertemu satu kali sampai mencari data dirinya jika tidak ada ketertarikan? Pria gila mana yang tiba-tiba resign dari kantor dan kembali ke kampus jika tidak ada apa-apa di sana? Dan Pria sinting mana yang melakukan segala cara termasuk menjadi dosen pembimbingnya demi bisa selalu menatapnya jika tidak jatuh cinta?” Cavina kembali melanjutkan ucapannya. “Mas bahkan datang ke kampus di hari Sabtu padahal selama menjadi dosen, Mas tidak pernah melakukannya jika tidak ada yang urgent.” “Oh, satu lagi. Dosen pembimbing mana yang chat bersama mahasiswa bimbingannya hingga larut malam dengan alasan membahas draft skripsi padahal ada niat terselubung di dalamnya?” Daska kembali menarik senyum di bibirnya. Sesuatu yang jarang ia tampilkan di kampus. “Semoga dia tidak menyadarinya.” Cavina memutar bola matanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan langkah yang dilakukan oleh Kakaknya itu. “Semoga saja gadis bernama Nea itu tidak takut padamu dengan sikap yang Mas tunjukkan selama di kampus.” “Dia butuh banyak waktu untuk ya ... bersikap biasa saja. Aku tahu itu tidak akan mudah untuknya tapi ...” “Aku mengerti. Mas hanya tidak sabaran. Wajar. Bukankah semua pria yang jatuh cinta juga begitu? Sering cepat mengambil tindakan tanpa memikirkan dampaknya.” “Jadi, sudah sejauh apa langkah Mas Daska?” “Masih mencoba membuat dia nyaman dan tidak gugup setiap kali berhadapan dengan Mas.” “Dan sekarang dia punya asumsi baru,” ujar Daska kemudian. “Asumsi baru?” “Ya. Karena peremuan kalian beberapa hari yang lalu, Nea menganggap jika aku adalah pria beristri. Dan kamu istrinya.” Cavina terbahak. “Istri? Aku? Dia mengira aku istrimu?” Cavina masih tertawa. “Astaga, lucu banget sih dia. Dan Mas bilang yang sebenarnya?” “Tidak. Tentu saja. Aku suka membiarkan dia dengan asumsi-asumsi liarnya. Aku ingin melihat sampai dimana itu mempengaruhinya.” “Aku boleh bertemu dengannya lagi? Aku ingin mengobrol banyak dengannya, Mas. Pasti akan sangat menyenangkan sekali.” Daska menatap Adik perempuannya tajam. “Jangan memperumit keadaan, Cav. Bersabarlah lebih lama lagi.” Cavina terkekeh. “Baiklah.” “Tapi Mas,” suara Cavina melembut, kali ini lebih serius. “Kamu udah yakin sama langkah ini?” Hening sebentar dan Cavina kembali melanjutkan. “Kamu tahu kondisi kamu sekarang nggak sederhana kan, Mas? Ada... tanggung jawab yang ... sedang kamu pikul.” Ia berusaha mengingatkan pria itu. Daska mengangguk kecil. “Aku tahu.” “Dan ketika kamu memutuskan untuk maju, kamu bukan hanya menarik diri kamu sendiri keluar dari pusaran ini... tapi juga menarik dia masuk ke dalamnya.” Daska menghembuskan napas perlahan, berat. “Aku tahu konsekuensinya dan lagipula aku belum memastikan apapun. Nea masih terlalu jauh untuk aku tahu isi hatinya.” “Aku mengerti. Tapi kamu juga harus tetap memikirkannya sejak sekarang, Mas.” Cavina menatap kakaknya dalam-dalam. “Kita tahu... semua ini berawal dari tragedi. Dan kamu terjebak dalam peran yang... bukan kamu. Tapi jangan sampai keinginan kamu saat ini malah membuat orang lain masuk ke luka yang sama.” “Aku tahu. Tidak sedikitpun dari diriku berniat untuk menyakiti Nea,” ujar Daska akhirnya, pelan namun tegas. “Bahkan kalau aku harus mundur nantinya, aku akan pastikan dia tidak akan terluka.” Cavina tersenyum tipis. “Kamu selalu jago kalau soal atur strategi. Tapi kali ini, kamu harus ingat, Mas. Kamu gak cuma mainin logika. Ada perasaan di dalamnya.” Daska menatap keluar jendela. Langit mulai cerah, tapi masih menggantung mendung sisa hujan. “Dan justru itu yang paling berbahaya. Aku tahu,” tuturnya pelan. “Jika kamu memang bersungguh-sungguh dengan Nea, make sure kamu membereskan hubunganmu terlebih dahulu. Jangan mempersulit keadaan,” nasehat Cavina. Ia kemudian bangkit dari duduknya. “Aku ada pemotretan hari ini. Tapi aku berjanji akan pulang sebelum makan malam,” katanya kemudian. “Tentu. Pastikan kamu kembali sebelum Rama pulang. Jangan beraktivitas terlalu lelah. Ingat program kehamilan yang sedang kalian jalani.” “Aku janji.” Setelah itu, Cavina benar-benar pergi dari ruangan Daska, menyisakan Pria itu kembali bersama keheningannya yang tenang. Pikirannya kembali berkelana pada Nea, namun kini bercabang pada hal lain. Alana. Benar kata Cavina. Ia harus menyelesaikan segalanya dulu jika tidak ingin berakhir berantakan. Namun, sampai detik ini Daska bahkan belum menemukan cara bagaimana ia akan keluar tanpa harus menyakiti hati Alana. *** Siang hari yang terasa sejuk setelah hujan yang mengguyur sejak pagi, menjadi alasan Nea dan Jua masih berada di kafe kecil sekitaran kampus. Hari ini tidak ada jadwal bimbingan namun keduanya sepakat untuk berangkat ke kampus demi melanjutkan draft skripsi bab dua mereka. Kursi kafe yang empuk dan aroma kopi seharusnya bisa jadi obat mujarab buat kepala Nea yang mumet. Tapi, entah kenapa, wajah pria itu masih menempel jelas di otaknya. Bersama sosok wanita berambut panjang yang keluar dari ruangan Daska hari itu. Ditambah lagi, percakapan terakhirnya dengan Pak Daska yang tidak menghasilkan jawaban apa-apa. “Gue yakin wanita itu pasti bukan sekedar tamunya Pak Daska,” gumam Nea pelan, setengah ngomong ke diri sendiri. “HAH?!” Jua yang baru duduk dengan es kopi s**u di tangannya, nyaris menumpahkan setengah isi gelasnya. “Siapa? Siapa yang bukan sekedar tamunya Pak Daska?” Nea melirik malas. ”Udah duduk aja dulu, napa. Belom apa-apa lo udah drama.” “Lah gimana nggak drama, lo tiba-tiba ngomong begitu!” Jua membetulkan posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke depan. ”Cepet cerita!” Nea menghela napas. “Lo inget kan waktu kita mau bimbingan sama Daska yang tempo hari itu ada wanita yang keluar dari ruangan Pak Daska?” “Iya, he'eh. Gue masih inget. Kenapa?” “Menurut lo dia siapanya Pak Daska? Kayak ... gak mungkin nggak sih kalau cuman tamu biasanya doang?” “Lo kepikiran?” Nea melotot. ”Juaaaaaaa! Ya menurut lo gimana gue nggak kepikiran, hah? Coba lo bayangin kalo yang papasan sama kita kemarin itu pacarnya Pak Daska? Tunangannya? Atau bahkan istrinya? Itu artinya gue—malem itu—Juaaaaa lo paham kan maksud gue?” “Astaga!” Jua ikut membelalakan matanya kaget. Dia juga memikirkan hal yang sama. “Nea, lo beneran harus mastiin, sih. Harus!!!” “Iya tapi gimana cara gue mastiinnya? Gue udah pernah coba, mancing-mancing dia gitu deh di chat tapi dia nggak ngasih jawaban yang jelas gitu, Jua. Makanya gue kepikiran banget sekarang.” “Hah? Lo chattan sama Pak Daska? Serius?” “Ya bukan kayak yang lo pikirin, enggak. Ya biasa doang bahas skripsian. Cuman kan waktu itu posisinya udah malem, kan, terus gue mancing-mancing dia, gue bilang intinya udah malem kok bapak masih sempet-sempetnya chat sama mahasiswa bimbingannya. Emang gak diomelin sama istrinya? Gue tanya gitu, kan ...” Jua terlihat sangat antusias. “Terus, terus?” “Lo tahu gak apa jawaban Pak Daska?” "Apa? Apa? Kasih tahu cepet!" “Dia bilang, 'Berhenti memikirkan banyak hal yang membuat kepalamu riuh, Nea. Fokus kamu saat ini adalah bersama saya.' terus dia langsung ngeralat chatnya. 'Ah, maksud saya bimbingan bersama saya. Selesaikan skripsi kamu tepat waktu. U got it?' Coba? Bukannya berkurang isi kepala gue, yang ada malah nambah! Apa maksudnya coba? Nggak mungkin kan kalau cuman typo, doang?” “Oh my god! Menurut kamus cewek semua umat ya, Nea. Biasanya nih ya, omongan yang pertama itu yang bener. Jadi, bisa disimpulkan kalau itu tuh kayak semacam kode gitu gak, sih?” Masih dengan ekspresi Jua yang antusias, ia kembali bersuara. “Fix, Pak Daska naksir sama lo, Ne. Gak salah lagi!” “Astagaaaa Juaaaa!!!!” “Apalagi, sih?” “Jua kita aja belum tahu wanita yang waktu itu siapa...” “Astaga, Nea, sahabatku yang cantik ... Gini ya, kalau Pak Daska udah bilang gitu, artinya Dia belum beristri dan wanita yang tempo hari itu bisa aja cuman temen, atau saudaranya, kan?” “Oke ... Anggaplah iya Pak Daska belum beristri, dan tapikan bisa aja dia pacarnya Pak Daska, atau tunangannya? Kita belum tahu kebenarannya Jua. Gak usah bikin gosip sendiri, deh ...” “Ya itu PR-nya Neaaaa. Lo harus pastiin wanita itu siapa dan ada hubungan apa sama Pak Daska. Lo nggak mau kan kepikiran terus?” Nea cemberut. “Yaa enggak, sih. Gue pengen tenang Juaaaa, aaaaa ....” ia mulai merengek bak anak usia 5 tahun yang minta dibelikan permen. “Tapi ya, Nea ... misal nih ya, misalnya dulu aja ... Kalau Pak Daska itu masih single, lo emangnya nggak tertarik sama dia, Ne? Sedikitpun, gitu?” Nea terdiam. Menggigit bibir bawahnya sendiri. Jujur saja Nea mengakui jika Pak Daska memang tampan dan ... matang. Ya bagaimana tidak matang usianya aja sudah menginjak 31 tahun. Selain itu, rahangnya yang tegas, sorot matanya yang tajam, dan wajahnya yang selalu terlihat tenang namun memiliki aura yang dominan juga terlihat sempurna dimata Nea. Tapi, apakah ia tertarik? Nea menggeleng. “Gue ... Nggak tahu, Jua.” Ia menghela napasnya dalam. “Ya walau di beberapa moment dia tuh bikin gue bertanya-tanya, bikin gue ngerasa ada yang lain tapi—” “Tapi lo belum berani menelaahnya. Iya, kan?” Dan Nea mengangguk. Membuat Jua kini memandangnya dengan pasrah lalu mengusap punggung sahabatnya pelan. “Ya udah, udah, skip. Fokus skripsi aja dulu. Urusan Pak Daska ... belakangan aja.” Keduanya kembali menikmati minuman mereka sembari membahas topik lain. Namun, baru saja beranjak, sebuah pesan dari pria yang tadi sempat jadi topik utama, membuat Nea mengerutkan kening. Seingatnya revisinya sudah selesai dan jadwal bimbingan selanjutnya masih minggu depan. Karena penasaran, Nea membuka pesan tersebut. Dosen Pembimbing 1 - Pak Edgara Daskarendra Nea, saya di depan kost kamu. Kamu ada di kost? “Hah?” jerit Nea refleks. Membuat Jua segera merebut ponsel Nea dan keduanya kini sama-sama terkejut. “Pak Daska di depan kost, lo? Oh my god kok bisa? Lo ada janji sama dia?” dengan cepat Nea menggeleng. “Gue bales apa, nih?” “Bilang aja lagi di luar tapi ini mau pulang, kok, gitu....” “Lah emang kita udah mau pulang?” “Aduh Nea, udah bales aja dulu. Emang lo nggak penasaran dia mau ngapain?” “Ya ... ya udah deh iya gue bales dulu.” Nea kemudia mengetikan balasan. Sesuai dengan arahan dari Jua. Serena Elaris Saya kebetulan lagi di luar, Pak. Tapi ini mau pulang. Ada apa ya, Pak? Sent. Pesan itu terkirim. Tidak lama sebuah pesan balasan datang. Membuat Nea dan Jua dag dig dug sekaligus penasaran dengan jawaban Pak Daska. Dosen Pembimbing 1 - Pak Edgara Daskarendra Baiklah kalau begitu, saya tunggu. Take care. Dan keduanya saling pandang. Sama sekali bukan jawaban yang mereka harapkan. “Ck! Kan, Pak Daska tuh selalu begitu. Nggak pernah ketebak orangnya,” dumel Nea. “Gimana nih, Jua? Gue pulang apa enggak, nih?” “Pake nanya lagi. Mau lo gak di lulusin Pak Daska?” Nea bergidik ngeri. “Ya ... enggak lahhh gila aja!” Ia berpikir sejenak. “Ya udah deh, gue balik ya, Jua. Paling juga mau bahas skripsian,” pamit Nea sambil menggendong tas ransel kecilnya. “Tapi janji ya, nanti lo harus cerita!” “Iyaaaaa. Bye, Jua!” “Bye! Hati-hati, ya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD