5 | Bersama Pak Daska & Hal yang Tak Terduga

2651 Words
Di tempat lain, langit sore yang memperlihatkan warna jingganya yang hangat seolah menemani Daska menunggu kedatangan Nea di dalam mobil. Beberapa saat yang lalu ia sempat mengirimi gadis itu pesan dan Nea mengatakan sedang berada di luar namun sudah akan pulang sehingga ia menunggunya di sini. Di sisi jalan dekat dengan gerbang kosan Nea. Tak berapa lama, sebuah ojek online berhenti tepat di gerbang kosan dengan membawa seorang gadis yang Daska kenal. Gadis dengan cardigan rajut berwarna hijau melon bercorak pita putih itu terlihat turun dari motor, membuka helm yang dipakainya, lalu menyerahkannya pada sang driver. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, sesekali terbawa angin yang berhembus membuat Daska terkesima beberapa saat. Setelah ojol itu pergi, Daska turun dari mobil dan berjalan menghampiri Nea. Suara pintu mobil otomatis membuat Nea menoleh. Dan ia mendapati sosok Pak Daska yang berjalan ke arahnya. Nea menegakkan tubuh, mencoba menahan ekspresi gugup yang tiba-tiba muncul. Di hadapannya kali ini, pria itu berdiri mengenakan kaos polo berkerah lengan pendek berwarna hitam, celana jeans senada dengan gaya rambutnya yang selalu rapi, dan parfum maskulin yang entah sengaja atau tidak wanginya selalu sama seperti saat malam itu. Diam-diam, Nea menghela napasnya dalam karena tiba-tiba saja ingatan tentang malam itu kembali muncul di kepalanya. Sebelum ingatannya semakin jauh dan liar, ia segera mengenyahkannya. “Ada jadwal bimbingan hari ini?” tanyanya dengan wajah yang selalu sama, tenang dan cool. Nea menggeleng cepat. “Nggak. Tadi saya ke kampus buat ngerjain skripsi bab 2 terus kehadang hujan, jadi sempat kejebak di kafe. Baru bisa pulang sekarang,” jelasnya. Daska mengangguk pelan, menjejalkan tangan ke saku celananya. “Sama Jua?” “Yah, as usual ...” Nea memiringkan kepala, lalu menatapnya curiga. “Bapak ada perlu apa kesini?” Daska menahan napas sebentar, lalu menatap Nea lebih lama. Seolah sedang menimbang kata-kata yang pas untuk dia utarakan. “Sebenarnya, saya hendak membeli hadiah ulang tahun untuk keponakan perempuan saya. Ia minta boneka, dan saya tidak yakin bisa memilih yang tepat sendirian,” tuturnya kemudian. “Saya pikir, akan lebih baik jika saya meminta pendapat dari seseorang yang, barangkali, lebih mengerti soal boneka dibanding saya. Dan... saya teringat kamu,” lanjutnya dengan nada netral tapi jelas. “Kenapa saya, Pak?” tanya Nea. “Maksud saya, kenapa tidak minta tolong teman, ibu, atau—perempuan lain, mungkin?” Daska menghela napas tipis, menatap Nea tanpa tergesa. “Saya tidak memiliki banyak teman perempuan, Nea. Lagipula, mengingat bagaimana kita saling mengenal, saya pikir tidak ada salahnya meminta bantuan kamu?” Nea terdiam sejenak. Matanya menatap Daska, mencoba membaca apakah ada maksud lain dari ajakan itu. Tapi nada bicaranya tetap tenang dan serius, tidak memberi ruang untuk spekulasi liar. Sehingga, spekulasi Jua tadi di caffe secara resmi Nea patahkan. Lagipula tidak mungkin juga pria dewasa seperti Pak Daska tertarik kepada gadis seperti dirinya, kan? “Baiklah,” jawab Nea akhirnya. “Tapi saya harus mandi dan ganti pakaian dulu. Is it okay?” “Sure,” Daska mengangguk. “Saya tunggu di sini.” Tiga puluh menit kemudian, Nea kembali dengan kemeja berwarna putih dengan potongan v-neck yang tidak terlalu rendah, kemejanya ia masukan ke dalam celana jeans berwarna snow blue yang memiliki potongan longgar pada bagian bawahnya, dengan ujung celana yang melebar atau flared di mana bagian kaki celana secara perlahan melebar dari lutut hingga ujung. Rambutnya yang kembali di gerai dan dibuat curly pada ujungnya memberikan kesan elegan namun juga manis. Riasan wajahnya yang tipis juga memberikan kesan cantik yang pas. Keduanya pun segera memasuki mobil dan secara perlahan mobil yang dikendarai oleh Daska pun bergerak meninggalkan area kos. Suara mesin halus berpadu dengan alunan musik instrumental pelan dari radio. “Terima kasih sudah bersedia menemani, Nea,” ucap Daska membuka percakapan. “Sama-sama, Pak. Kebetulan Saya juga tidak ada kegiatan sore ini.” Daska melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. “Keponakan saya usianya lima tahun. Ia sangat menyukai boneka, tapi sudah punya terlalu banyak yang serupa. Saya khawatir akan memilih sesuatu yang justru membosankan untuknya.” Nea mengangguk kecil. “Anak perempuan seusia itu biasanya suka yang lucu-lucu, tapi sekarang banyak juga boneka yang bisa bicara atau menyala saat dipeluk. Bapak ingin yang klasik atau modern?” “Saya belum memutuskan. Itulah kenapa saya butuh masukan.” Mereka diam sejenak. Suasana dalam mobil tenang, tidak ada ketegangan, hanya semacam batasan halus yang masih terasa di antara mereka. Nea menatap ke luar jendela. “Bapak sering memberi hadiah sendiri untuk keponakan?” tanyanya tiba-tiba. “Tidak juga. Biasanya ibu saya yang mengurus,” jawab Daska, suaranya terdengar ringan. “Tapi untuk yang ini, saya merasa perlu ikut campur.” “Kenapa?” Nea menoleh. “Karena keponakan saya baru saja pindah sekolah, dan belum punya banyak teman. Ia agak sensitif, dan saya pikir hadiah ulang tahun dari saya akan membuatnya merasa lebih diperhatikan.” Nea mengangguk pelan. “That's so sweet.” Daska tidak menanggapi, hanya tersenyum samar tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyerangnya ketika mendengar kalimat singkat itu dari gadis disampingnya. Meski ia menyadari jika kalimat itu tidak ditujukan secara spesifik untuk dirinya dalam konteks yang berbeda, tapi cukup membuat sesuatu dalan tubuhnya bedesir. Setelah melalui perjalanan sekitar 45 menit, Daska dan Nea sampai di sebuah Mall. Mereka berjalan berdampingan memasuki Mall dan langsung menuju lantai 3 di mana toko boneka yang mereka tuju berada. Interior toko itu penuh warna pastel dan aroma plastik baru yang khas. Nea langsung bergerak ke rak boneka kelinci berbulu halus, sementara Daska berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan. “Yang ini menggemaskan,” komentar Nea sambil mengangkat boneka kelinci berwarna krem dengan baju overall merah muda. “Lucu,” kata Daska singkat, lalu menoleh ke boneka lain. “Tapi yang itu juga menarik.” Nea mengikuti arah pandangnya ke boneka beruang putih dengan selendang ungu. “Yang itu terlalu... biasa.” Daska menyentuh kepala boneka itu. “Berarti kita butuh sesuatu yang istimewa.” Setelah beberapa pertimbangan, Nea menyerahkan satu boneka kecil lucu yang bulunya sangat halus. “Ini. Imut, tidak terlalu besar, dan sangat menggemaskan.” Daska menerimanya. “Saya percaya pilihan kamu.” “Of course you should!” ucapnya penuh percaya diri. Setelah itu mereka langsung menuju ke kasir, membayar, dan keluar dari toko. Suasana mall semakin ramai dengan pengunjung yang mulai berdatangan menjelang malam. Saat mereka melewati lantai bioskop, langkah Daska melambat. Matanya mengarah pada papan LED film yang berderet. “Filmnya kelihatan menarik,” gumamnya. Nea mengikutinya. “Bapak mau nonton?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. “Yah, kenapa tidak? Mumpung kita di sini, bagaimana kalau sekalian nonton?” ujar Daska, masih menatap ke arah jadwal tayang. “Kalau kamu tidak keberatan, tentu.” Nea menatapnya, sedikit terkejut. “Saya pikir Bapak hanya ingin beli boneka.” “Itu tujuan utama. Tapi saya pikir tidak ada salahnya juga, kan?” Nea menimbang-nimbang sebentar. Ada jeda, tapi tidak terlalu lama. “Apa kesannya enggak aneh, Pak? Maksud saya, sejak kapan Dosen dan mahasiswa pergi menonton film?” Daska menaikkan satu alisnya. “Ini di luar jam kampus, Nea. Diluar itu saya bukan dosen kamu ataupun dosen pembimbing kamu, begitupun kamu bukan masasiswa saya,” katanya enteng. “Atau kamu merasa malu pergi nonton bersama pria yang usianya terpaut 10 tahun lebih tua dari kamu?” tanya Daska kemudian, yang langsung mendapat gelengan kepala dari Nea. “Sama sekali nggak, Pak. Saya bahkan nggak kepikiran sampai sejauh itu.” “Lantas?” “Saya cuman takut ada yang mengenali kita dan malah jadi gosip di kampus, Pak,” ungkap Nea mengeluarkan kekhawatirannya. “Ini bukan weekend dan Mall ini juga bukan termasuk yang banyak digandrungi oleh anak muda setahu saya. Jadi seharusnya kecil kemungkinan akan bertemu dengan mahasiswa yang mengenali saya.” “Iya, sih. Kalau begitu... baiklah,” ujar Nea akhirnya. Mereka pun melangkah ke loket tiket dan membeli dua tiket beserta minuman dan sekotak popcorn besar sebagai teman menonton mereka. Di dalam bioskop yang gelap, layar besar memancarkan gambar-gambar horor yang membuat suasana semakin mencekam. Nea dan Daska duduk bersebelahan pada seat F. Lampu bioskop yang redup hanya memperjelas ketegangan yang mengambang di udara. Suara dentuman dan musik horor semakin membangun ketegangan, membuat Nea sedikit cemas. Nea menatap layar dengan perhatian yang terpecah. Dia berusaha fokus, namun tidak bisa menahan rasa gugup yang mulai merayap. Sesekali, dia menoleh ke Daska yang duduk tenang di sampingnya, tampak sangat profesional seperti biasa. Ini adalah kali pertama ia menonton film bersama dosennya sendiri. Garis bawahi, dosennya sendiri. Jangan tanya bagaimana perasaannya. Sekalipun sudah berusaha untuk tetap tenang, tapi rasa canggung itu tetap tidak bisa ia sembunyikan. Bagaimana tidak? Ia tidak pernah membayangkannya sama sekali dan entah bagaimana Takdir hidupnya unik sekali. Selalu penuh dengan kejutan dan hal-hal yang tidak pernah ia sangka. Semua berjalan baik-baik saja hingga di pertengahan film. Tiba-tiba, sesosok hantu muncul secara mendadak di layar, wajah pucat dan menyeramkan. Membuat hampir seisi bioskop terkejut dan teriak bersamaan termasuk Nea. Ia bahkan sampai refleks memalingkan wajah, menyembunyikannya di bahu Daska yang tepat berada di sampingnya. “Ah!” jeritnya pelan. Daska sempat terkejut, tapi segera menyadari Nea yang ketakutan. Ia melihat sekilas ke arah Nea yang masih menempelkan wajahnya ke lengan bajunya, tangan Nea gemetar. Namun, ia tetap berusaha mengontrol dirinya. “Ada apa? Takut?” suaranya datar, tapi ada nada lembut yang terasa berbeda. Nea tersadar, dan dengan cepat menjauhkan wajahnya dari lengan Daska. “Maaf, Pak, saya refleks.” “Tidak apa-apa, saya paham.” Lalu, keduanya kembali fokus pada layar besar di hadapannya. Meski tidak benar-benar fokus. Ketika film itu semakin mencekam, Nea tidak bisa menahan diri dan lagi-lagi terkejut saat adegan lain muncul. Ia kembali menyembunyikan wajahnya pada bahu Daska, membuat pria itu mengalihkan pandang dari layar bioskop. “Mau keluar sekarang?” Ajak Pria itu, memahami ketakutan Nea. “Nggak, Pak. Jangan. Filmnya kan belum selesai. Saya cuman, nggak terbiasa nonton film horror aja,” pungkasnya benar-benar tidak enak. Nea kembali meminta maaf untuk hal refleks yang terjadi kedua kalinya dan memfokuskan dirinya pada film yang masih berjalan. Ia sudah bertekad dalam hatinya jika nanti akan ada adegan menyeramkan tiba-tiba lagi, Ia akan segera menutup kedua mata dengan tangannya. Tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi. “Kamu yakin?” “Yakin kok, Pak ...” Tangan Nea mengambil minuman yang berada di samping kursi, berharap dengan minum bisa sedikit menenangkannya. Setelahnya, ia hendak mengambil popcorn yang berada di tengah-tengah antara dirinya dan Pak Daska, namun insiden kecil kembali terjadi. Tangannya bersentuhan dengan tangan Daska yang juga hendak mengambil popcorn. Kecanggungan jelas terasa diantara keduanya. Namun, siapa yang menyangka jika hal itu membawa Daska pada langkah lain. Ia meraih tangan Nea lalu menggenggamnya. “Tangan kamu dingin,” Daska berkata pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara efek film yang menegangkan. “Anggap saja sebagai permintaan maaf saya karena salah memilih film. Juga mengurangi ketegangan kamu,” katanya. Nea tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan tangan Daska menggenggamnya. Meski canggung dan deg-degan, Nea merasa aneh. Sebuah desiran halus tiba-tiba saja muncul. Sulit dijelaskan. Suasana canggung itu semakin terasa saat film hampir berakhir. Nea merasa tangan Daska masih menggenggam tangannya. Tangan itu terasa hangat dan aman, jauh dari rasa takut yang menguasai dirinya. Mereka tetap diam, terlarut dalam suasana horor yang menegangkan. Saat film selesai dan lampu bioskop mulai menyala, Nea menarik napas, lalu buru-buru melepaskan tangannya lebih dulu dari genggaman Daska. “Terima kasih,” katanya pelan, sedikit kaku dan canggung. Daska mengangguk pelan, meski matanya tampak lebih tajam dari biasanya. “Sama-sama,” jawabnya singkat. “Saya yang harusnya minta maaf. Saya tidak bertanya terlebih dahulu jenis film apa yang kamu suka.” Serenea menggeleng cepat. “Nggak apa-apa kok, Pak. Saya tadi beneran cuman kaget aja.” Keduanya pun berdiri dan berjalan menuju pintu keluat bioskop. Tentu saja dengan pikiran yang berkecamuk di masing-masing kepala. Langit malam menaungi kota dengan cahaya redup, hanya diterangi lampu jalan yang sesekali berkedip lemah. Mobil hitam milik Daska berhenti perlahan di depan gerbang kost Nea. Di dalamnya, keheningan sempat menguasai sebelum akhirnya suara mesin dimatikan, menyisakan denting halus dari sistem pendingin yang perlahan padam. “Terima kasih sudah mau membantu saya, Nea.” ucapan itu keluar dari bibir Daska. Lalu pria itu kembali bersuara. “Dan, saya minta maaf untuk filmnya.” “Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya sedikit kaget. Dan maaf untuk hal refleks yang saya lakukan tadi. Saya sungguh tidak ada maksud lain.” Nea berusaha agar tidak ada kesalah pahaman diantara keduanya. “Saya paham.” “Nea?” panggilnya kemudian. “Iya, Pak?” “Kamu masih merasa canggung dengan saya?” Nea mengatupkan bibirnya rapat. “Saya hanya belum terbiasa. Kehadiran Bapak masih terasa tiba-tiba untuk saya,” tutur Nea hati-hati. “Apa kehadiran saya selalu mengingatkan kamu dengan malam itu? Apa kamu menyesalinya?” Nea menggigit bibir bawahnya. Andai pria di hadapannya tahu bahwa bukan itu alasannya. Tapi Nea juga bingung bagaimana harus menjelaskannya. “Pak, kita sudah pernah membahas ini dan saya sudah menjelaskannya secara gamblang serta sejujur-jujurnya kepada Bapak.” Nea mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Tidak berani berlama-lama memandang pria di sampingnya. “Dan saya juga sudah mengatakannya berkali-kali bahwa kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, Nea.” “Saya tahu, Pak. Maka dari itu saya berusaha keras agar tidak merasa canggung meskipun terasa sangat susah.” Nea mendesah pelan, merasa sedikit frustrasi. “Serenea?” panggil Daska lagi. Namun kali ini dengan nama utuhnya. Hal itu membuat Nea kembali menoleh. “Saya ingin mengakui satu hal,” ucapnya dengan begitu tenang. Mendengar itu, jantung Nea berdebar tak karuan. Isi kepalanya mendadak riuh karena menduga-duga. Pengakuan? Pengakuan apa yang akan Daska ungkapkan? Bahwa dia benar mempunyai istri? Seketika, pikirannya begitu kalut akan kemungkinan-kemungkinan yang muncul dan menari-nari di dalam sana. “Tentang?” “Bahwa—sebenarnya—ya, saya tidak bisa berhenti memikirkan malam itu dan juga kamu,” Akunya. Nea menatapnya-diam, nyaris tak bernapas. Perkataannya barusan seolah menggema di kepalanya, berulang-ulang. 'Saya tidak bisa berhenti memikirkan malam itu... dan juga kamu.' Untuk beberapa detik, waktu terasa beku. Hanya suara detak jantungnya yang terdengar, bergemuruh di d**a yang mendadak sesak. Nea menelan ludah. “Kenapa ... kenapa Bapak mengatakannya? Bapak tahu, kan, itu akan membuat saya semakin kesulitan?” “Saya tahu. Tapi saya juga tidak bisa menahannya.” “Nea .... " Daska meraih lengan Nea, kembali menggenggamnya lembut. Lalu, tanpa aba-aba, ia menariknya yang membuat tubuh Nea terdorong ke arah depan dan langsung disanggah oleh tangan Daska yang lain. Keduanya kini berada dalam jarak dekat yang sangat berbahaya. Mata itu saling menatap, seolah meraba pikiran satu sama lain. Mata Daska sedikit melembut. Ada keraguan yang sempat singgah di wajahnya, seolah sedang melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Tapi kemudian, tanpa banyak kata, ia perlahan menarik tubuh Nea, membuat jarak diantara keduanya semakin rapat dan- Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Nea. Ringan. Singkat. Tapi cukup untuk membuat tubuhnya menegang dalam sekejap. Napasnya tertahan, dan dunia serasa terhenti dalam beberapa detik. Nea bahkan tidak bisa mengerjapkan matanya barang sedetik saja saking kagetnya. Namun, disaat yang bersamaan desir itu kembali datang, bahkan kini terasa menjulur ke seluruh tubuhnya. Saat ciuman itu terlepas dan Daska menjauhkan tubuhnya, entah kenapa ada perasaan aneh yang menyelimutinya. “Maaf,” gumamnya pelan. “Saya... terbawa suasana.” “Jika kamu tidak suka, kamu boleh—” Nea tidak menjawab dan segera membuka pintu mobil. Ia bergegas turun, menutup pintu dan berjalan menuju gerbang kost tanpa menoleh lagi. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang. Degup jantungnya masih tidak beratruan. Desiran aneh itu bahkan terasa semakin menggila di tubuhnya. Langkahnya mendadak pelan, tangannya terangkat, menyentuh bibirnya sendiri. Apa ... yang barusan itu benar-benar nyata? Di dalam mobil, Daska masih diam. Jemarinya menggenggam setir, matanya menatap lurus ke arah kepergian Serenea. Gadis itu bahkan tidak mengatakan apapun yang membuat Daska dilanda keresahan dan juga kebingungan. Apakah ... Aku telah melakukan kesalahan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD