“Feelings are quiet truths the heart whispers, while secrets are the shadows they hide behind.”
——
Pagi itu datang tanpa memberi ruang untuk kelegaan. Matahari memang terbit seperti biasa, tapi bagi Nea, tidak ada yang terasa normal. Keningnya terasa berat, sepertinya efek semalam pikirannya terus bekerja, tanpa henti, tanpa jeda. Bahkan tidur pun tak mampu menenangkan gelombang yang menggulung dalam dadanya.
Yang bahkan sampai saat ia bangun pun hal itu tetap memenuhi kepalanya. Bukan hanya isi kepala, hatinya pun kini dipenuhi oleh rasa-rasa aneh yang datang tanpa diminta. Membuatnya semakin tidak mengerti pada dirinya sendiri.
Sebuah hal yang tak pernah ia perkirakan. Tak ada pertanda, tak ada petunjuk. Tapi begitu terjadi, ia tahu… hidupnya tidak akan lagi sama.
Tatapan pria itu, wajah tenangnya, genggaman tangan yang lembut dan hangat, lalu… ciuman yang datang begitu saja. Apa maksudnya? Apa artinya? Dan yang lebih menyiksa adalah... sejak semalam, tak ada satu pun kabar darinya.
Ponsel Nea tetap diam. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan baru dari orang yang sempat membuatnya merasa… ciuman itu memiliki sesuatu yang lain. Asumsinya kembali menguar liar. Mungkinkah pria itu hanya bermain-main dengannya?
Nea menatap langit-langit kamar kosnya yang pucat, lalu menarik napas panjang. Dadanya sesak oleh pertanyaan-pertanyaan yang sampai saat ini tak punya jawaban pasti. Ia mencoba mengabaikannya, namun sebalnya, memori itu tetap kembali.
Nea membalik tubuhnya, menutup wajah dengan bantal, ingin tenggelam dari kenyataan yang justru semakin membingungkan. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika bertemu Pak Daska lagi. Ia bahkan belum tahu bagaimana harus bersikap terhadap dirinya sendiri.
Dan ketika pikirannya sudah cukup riuh oleh spekulasi dan ketidakpastian, suara dering telepon menginterupsi kesadaran Nea. Membuatnya meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Tifajua Navitami is calling...
Nea menatap layar ponselnya sejenak sebelum akhirnya menggeser icon berwarna hijau. Ia sudah memastikan bahwa Jua pasti akan mengomel heboh karena semalam pesannya Nea abaikan.
“Ya?” suaranya pelan.
“YA?! YA KATANYA?! WAH GILA LO YA, NEA! SEMALAMAN GUE CHAT, GUE NUNGGU, LO MALAH NGILANG! LO KAN UDAH JANJI BAKAL CERITA SAMA GUE TANPA KELEWAT SATU MOMENT PUN!!!”
Nea memejamkan mata. menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. Benar, kan, prediksinya?
“Gue capek, Jua. Males cerita lewat telepon. Sini aja ke kos gue, bawa makanan sekalian.”
“Ck! Oke oke. Lo mau gue bawain apa?”
“Hmmm... Naspad enak kali, ya?”
“Ya udah gue pergi sekarang, ya. Awas lo jangan kemana-mana!”
“Iya, Juaaaaaa....”
Sambungan telepon terputus. Nea menghela napasnya berat. Ada begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, semuanya terlalu cepat, terlalu dalam, dan terlalu mendadak. Terlebih, terlalu jauh dari prediksinya.
Skripsi.
Kampus.
Kavin.
Daska.
Daska.
Daska.
Daska.
Daska.
Daska.
dan ciuman itu.
“Aaaaaaarrgghhht Pak Daskaaa kenapa kita harus ketemu lagi, sih?!” rengek Nea frustrasi.
Jika bisa mengulang waktu, sungguh Nea akan memilih untuk tidak datang ke pesta ulang tahun Faya malam itu. Ia tidak akan bertemu dengan Kavin, lelaki itu juga tidak akan menjebaknya, membawanya ke apartemen dan tidak akan bertemu dengan Daska, tidak akan terjadi insiden malam itu, dan yang terpenting tidak akan ada rasa canggung antara dirinya dan Pak Daska karena mereka yang tidak saling mengenal. Disamping itu, ia juga pastikan tidak akan ada ciuman yang terjadi malam kemarin, yang membuatnya semakin kacau balau sekarang.
Tapi, Tupai sudah terlanjur masuk ke kubangan lumpur. Nea tidak akan bisa mundur apalagi mengembalikan waktu yang mustahil itu. Saat ini ia hanya berharap bisa mengerti maksud dari semua ini.
Tiga puluh menit kemudian, suara langkah tergesa terdengar di lorong kos. Tak lama, suara nyaring menyusul dari balik pintu.
“NEAAA! GUE DATENG! BUKA WOI, NASI PADANG LO KEBURU ADA KAKINYA!!!”
Nea membuka pintu dengan wajah lesu, langsung disambut Jua yang membawa dua bungkus nasi padang dan dua botol teh dalam kantong plastik bening.
“Gue nyampe, bawa pesenan lo, jangan lupa langsung bayar pake cerita.”
“Masuk dulu, napa Juaaaaa.”
Gadis cantik yang selalu heboh itu hanya terkekeh kemudian masuk ke dalam kosan Nea. Ia duduk di karpet bulu berwarna abu kesayangan Nea, meletakkan makanannya di sana dan langsung menatap intens ke arah Nea yang baru saja duduk, ikut bergabung bersamanya.
“Cerita buru! Gue nggak bisa makan dengan tenang kalau lo belum cerita. Sumpah, Nea, gue udah ngarang lima versi cerita sendiri di kepala gue.”
Lihat, jika berbicara tentang karang mengarang cerita, sahabatnya itu memang jagonya. Nea mengambil nasi padang bagiannya, lalu membukanya perlahan. “Yaaa gitu ... Kemaren sore Dia dateng, kan, nungguin gue depan gerbang. Terus pas gue tanya ada keperluan apa, dia bilang mau minta tolong nemenin dia nyari hadiah buat keponakannya.”
“Hah? Motivasinya apa? Maksud gue kan kalau dia mau minta tolong bisa ke temennya, kek, ibunya, kakaknya, atau adiknya, atau saudaranya yang lain ya nggak, sih? Ngapain jauh-jauh ke elo yang cuman mahasiswa bimbingan dia?”
“Itu juga yang ada di pikiran gue. Gue juga sempet nanya gitu ke Pak Daska.”
“Terus-terus, jawaban dia?”
“Yaaa dia bilang nggak punya temen perempuan yang bisa dimintain tolong. Terus biasanya dia emang suka minta tolong ke ibunya aja atau siapa buat nyiapin kado tapi katanya buat kali ini dia pengen nyiapin kadonya sendiri,” tutur Nea.
“Wahh modus doang sih itu, fix!”
“Nggak gitu ... dia bilang kenapa harus gue ya karena kebetulannya kita pernah kenal, terlibat, yaaa you know laah, jadi dia berpikir ngajak gue buat dimintain tolong tuh bukan ide yang buruk.”
Sambil menyuap nasi ke mulutnya, jua mengangguk-ngangguk. Ia mengunyah makanannya sebentar, menelannya lalu bersuara. “Yaaa, masuk akal, sih. Terus-terus?”
“Yaaa, yaudah gue akhirnya nge-iya-in ajakannya, kita beli boneka ke mall, terus ya udah.”
“Boong banget lo! Gak percaya gue. Pasti ada lanjutannya kan abis, itu? Ngaku lo ada kejadian apalagi? Nggak mungkin banget kalau gitu doang lo semalam gue chat gak bales! Cerita buruan apa lanjutannya!!!”
“Ck! Emang ya, susah kalau boong sama lo!” yang membuat Jua terkekeh.
“And I wouldn’t let you do it.”
“Ya, ya, ya....”
“Ya terus gimana lanjutannya?”
Nea menggigit bibir bawahnya. “Terus dia ngajak nonton, film horror.”
“OH MY GOD! Pak Daska—ngajak lo—nonton—berdua?”
“Berdua.” Nea mengulang kalimat Jua.
“Fiks! Dugaan gue bener! Gak salah lagi! Itu pasti cuman modusnya Pak Daska doang. Sebenernya niat dia emang ngajak lo jalan. Ng-date! Yakin gue ...”
“Nggak sih kayaknya. Soalnya itu juga nggak serta merta Pak Daska kepikiran nonton. Kebetulan aja kita lewat bioskop dan dia ngide buat nonton.”
“Ck! Denial aja terus! Heran gue!” Jua kembali menyuap nasi ke mulutnya.
“Terus ... di tengah-tengah kita nonton, gue sempet 2 kali refleks sembunyiin muka di bahunya Pak Daska. Nggak modus ya, sumpah. Beneran karena adegan film waktu hantunya nongol tiba-tiba di layar.”
“Oh my god! Ya ampun! Seriously? Terus terus?”
“Gue juga enggak ngerti ya kenapa tapi kayak ada aja gitu insidennya kalau sama Pak Daska, tuh!” dia mencebik sebal tapi juga merasa aneh.
“Terus ya udah kan itu gue udah canggung banget. Tapi, tiba-tiba aja nih, pas gue mau ambil popcorn, tangan kita malah bersentuhan yang berakhir tangan gue digenggam sama Pak Daska.” Nea mengecilkan nada suara di akhir kalimatnya, kembali menggigit bibir bawahnya.
Hal itu sontak membuat Jua yang sedang meneguk botol minumnya, terdesak dan batuk beberapa saat. Setelah di rasa sudah reda, ia kembali bersuara. “Coba ulangi lagi, Ne. Tadi pak Daska ngapain?”
“Genggam tangan gue,” ulang Nea. “Tapi itu bukan karena modus sih, soalnya lo tahu kan, gue nggak suka film horor. Dan itu tuh filmnya beneran horor banget. Hantunya ituloh Jua, serem banget bikin tangan gue dingin. Terus ya karena insiden kecil itu jadinya Pak Daska genggam tangan gue. Dia sendiri yang bilang katanya supaya tangan gue lebih anget dan ngerasa gak tegang,” terangnya cepat. Tidak ingin sahabatnya kembali membuat rangkaian cerita di kepalanya yang belum tentu benar.
“Aduh Ne, udah ya, gue nggak ngerti lagi sama lo. Ya masa iya lo percaya aja sama omongannya Pak Daska, sih? Gak mungkin lah cuman sekedar bikin tangan lo lebih anget doang!” ujar Jua gemas.
“Ya terus gue harus gimana? Gue nggak mau mikir yang aneh-aneh Jua. Gue nggak mau menduga-duga hal yang belum pasti. Menuh-menuhin isi kepala tahu, gak?!” Jea kembali berdalih. Padahal tanpa diminta, isi kepalanya sudah sangat riuh oleh pikiran dan dugaan-dugannya sendiri.
“Ok, bentar. Gue cuci tangan dulu terus balik lagi. Bentar!” katanya yang langsung membereskan bungkus makanannya, menaruhnya ke plastik dan mencuci tangannya. Hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, gadis itu sudah kembali.
“Sekarang lo lanjutin ceritanya. Gue yakin pasti nggak cuman sampe disitu, kan? Lo sendiri yang bilang kalau sama Pak Daska tuh pasti ada aja insiden yang terjadi!” katanya terlihat sangat penasaran.
Nea terdiam. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya. Perasaannya campur aduk. Tapi Jua menatapnya dengan tatapan penuh tuntutan. Seakan tidak akan membiarkan Nea beranjak barang sedetik saja sebelum mendapatkan jawabannya.
“Tapi lo harus janji nggak bakal teriak, ok?” Jua langsung menarik bibirnya ke samping seperti menarik resleting agar tertutup rapat, lalu menaikan dua jarinya membentuk huruf V. “Janji!”
“Pas di mobil, sebelum gue turun, Pak Daska ... dia ... nyium gue.”
“APA?!!!” Sebelum Jua sempat berteriak, Nea lebih dulu membekap mulut sahabatnya itu, membuat Jua kembali menahan jeritannya.
“Gue kan udah bilang jangan teriak juaaaaa!” katanya lalu menjauhkan tangannya dari mulut Jua.
“NEA. ASTAGA!” Jua langsung memegang kedua pipinya sendiri. Ia masih sangat shock dengan ucapan sahabatnya barusan. “INI—SUMPAH YA GUE GAK SIAP DENGER BEGINIAN PAGI-PAGI. DIA NYIUM LO. DI MOBIL. HABIS NGANTER NONTON. OH MY GOD.”
“Nea jujur sama gue.” Jua memegang kedua lengan atas Nea, menatapnya lekat dan serius. “Lo—Perasaan lo, gimana perasaan lo saat itu? Lo pasti deg-degan, kan? Nggak mungkin enggak, sih.”
“Bukan cuman deg-degan, gila! Kaget, bingung, perasaan aneh, panas dingin, campur aduk semuanya jadi satu.” Nea melepaskan lengan Jua dari lengannya.
“Terus-terus?”
“Ya lo bayangin lah gimana gue shocknya di posisi itu. Gue bahkan gak bisa mikir jernih sama sekali. Pas Pak Daska bilang maaf, gue nggak ngomong apa-apalagi. Gue langsung keluar dan pergi masuk ke kosan.”
“Kalau Pak Daska udah berani nyium lo, gue yakin sih Ne, dia kayaknya beneran naksir sama lo!”
Tiba-tiba saja darahnya kembali berdesir mendengar perkataan Jua. Tapi, ada yang mengganggu pikirannya yanh sampai sekarang masih juga belum Nea temukan kebenarannya.
Nea mendesah pelan. “Tapi, sejak kejadian semalem itu, Pak Daska bahkan nggak ada ngehubungin gue sama sekali. Maksud gue kalau dia emang ada sesuatu, harusnya ngehubungin gue nggak sih, Jua? Apalagi dia pasti ngerti kalau apa yang dia lakuin itu berpengaruh banget buat gue.”
Jua ikut menghela napasnya. Memainkan bibir seperti ikut berpikir. “Iya juga sih, Ne ....”
“Apa ... dia cuman main-main sama gue ya?”
***
Sementara itu, di tempat yang lain, cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai yang belum sepenuhnya tertutup. Menyentuh dinding putih apartemen, juga punggung Daska yang duduk di meja makan—diam, nyaris tak bergerak. Omelette dan alpukat yang dia buat untuk sarapan pun, tak tersentuh sama sekali. Kopi hitamnya bahkan sudah dingin.
Dia menatap kosong pada hidangan di meja, bibirnya mengatup rapat. Bayangan tentang Nea terus berputar di kepalanya sejak semalam. Bahkan saat dia memejamkan mata, yang muncul justru wajah Nea yang gugup, tatapan matanya yang terlihat bingung namun tetap lembut, dan—rasa di bibirnya yang masih tersisa samar.
Sial.
Daska mengusap wajahnya, keras. Lalu bersandar ke kursi dengan desahan pelan, seperti membuang beban yang tak bisa dia jelaskan pada siapa pun. Ia baru saja gagal menahan dirinya.
Dia tahu apa yang dia lakukan di mobil itu salah. Ia membiarkan dirinya terbawa perasaan. Terlalu cepat. Terlalu dalam. Padahal saat itu dirinya bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Nea padanya. Apakah gadis itu menginginkannya atau tidak. Merasa nyaman atau malah semakin membuatnya gugup?
Padahal Daska juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih sabar dan menjaga profesionalisme.
Tapi begitu melihat Nea terdiam di kursi penumpang, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Daska terka apa isi kepalanya—semua itu buyar.
Dia menyentuh Nea. Menyentuh bibirnya yang bahkan hanya mengingatnya saja berhasil menciptakan desiran hebat dalam tubuhnya.
Dan sekarang, dia tak tahu harus apa. Sejak semalam, ia belum berani menghubungi Nea. Bukan tidak ingin karena egonya berkali-kali meminta untuk diikuti. Menghubungi gadis itu demi memastikan keadaannya. Tapi di sisi lain, logikanya malah bersebrangan dengan egonya.
Daska sangat sadar apa yang ia lakukan semalam sangat mempengaruhi Nea dan dengan tidak menghubunginya buru-buru, Daska berpikir sedang memberikan ruang pada gadis itu untuk lebih tenang dan memahami apa yang terjadi dengan pikiran yang lebih jernih.
Bahkan sejak pagi buta, saat matanya baru saja terbuka, keinginannya untuk sekadar bertanya tentang keadaan Nea sudah berkali-kali mampir di ujung jemarinya. Tapi setiap kali jempolnya nyaris menekan tombol kirim, pikirannya kembali menjeratnya dengan seribu kebimbangan.
Daska bukan tipe pria yang pengecut, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan kegelisahan yang begitu besar pada seseorang yang bahkan belum dia miliki.
Bahkan beberapa perempuan yang sempat ingin mengenalnya dulu, tidak terlalu memengaruhinya seperti Serenea. Gadis itu bukan perempuan yang bisa dia dekati tanpa pikir panjang. Bukan sekadar godaan yang bisa dia lupakan begitu saja. Ada sesuatu di diri gadis itu yang membuat semuanya terasa begitu hidup, begitu menginginkan untuk memilikinya.
Bersamaan dengan itu, ponsel di atas meja bergetar tiba-tiba, mengusik sunyi yang sejak tadi mengelilingi apartemen. Daska menoleh malas, sempat ragu untuk mengangkatnya. Tapi begitu melihat nama Alana terpampang di layar, Daska segera mengangkat telepon tersebut.
“Hallo...”
“Mas Gara?” suara Alana terdengar lembut, seperti biasa—ada ketenangan yang selalu melekat di dalamnya. “Masih ingat kan, hari ini kita ada jadwal check up?”
Daska memejamkan mata sesaat. Suaranya terdengar tenang saat menjawab, tapi ada ketegangan yang sulit disembunyikan. “Iya. Aku ingat.”
Alana menghela napas lega. “Maaf ya, aku ganggu. Soalnya Mas belum mengabari aku sejak kemarin, jadi aku agak khawatir.”
Daska menunduk, menatap bayangan samar dirinya di cangkir kopi yang sudah dingin. “Maaf Alana, aku ... benar-benar sibuk akhir-akhir ini.”
Alana terdiam sejenak sebelum kembali bicara, suaranya pelan. “Aku ngerti. Dan kalau hari ini Mas Gara masih sibuk, aku tidak masalah kalau ke rumah sakit sendiri.”
“Tidak Alana. Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri. Kamu tunanganku. Sudah kewajibanku untuk menemanimu.” Ucapan itu ... terasa berat diucapkan oleh Daska, berat sekali.
“Terima masih ya, Mas. Aku sangat bahagia memiliki kamu di hidup aku.”
Daska menghela napasnya berat. “Aku juga ... Alana.”
“Kalau begitu, aku akan menjemputmu sekarang.”
“Aku tunggu, Mas. Hati-hati, ya.” lalu, sambungan telepon pun terputus. Menyisakan Daska kembali bersama kesunyian dan kemelut yang ada di kepalanya.
***
Lorong rumah sakit terasa sunyi. Daska duduk di bangku tunggu, jemarinya meremas satu sama lain, seolah sedang menahan gelisah yang tidak mau pergi sejak Alana masuk ke ruangan pemeriksaan. Sudah hampir satu jam berlalu, tapi waktu terasa jauh lebih lambat dari biasanya.
Dulu, Daska khawatir dan tidak setuju jika Alana melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan kembali ingatannya. Itu akan sangat beresiko terhadap kesehatan mentalnya dan Daska tidak ingin hal yang lebih parah terjadi pada Alana.
Namun, sekarang hal itu berubah.
Pintu ruangan terbuka. Suara engsel yang berderit memecah kesunyian dan juga lamunan Daska. Alana melangkah keluar bersama seorang dokter berjas putih, berkacamata tipis dan ekspresi netral.
“Pak Edgara,” sapa dokter itu dengan sopan. “Kami sudah menyelesaikan serangkaian tes kognitif dan memori hari ini. Sejauh ini, masih belum ada perkembangan signifikan. Namun, kami akan terus melakukan yang terbaik agar Ibu Alana bisa mendapatkan kembali memorinya secara perlahan.”
Daska berdiri dan mengangguk singkat. “Terima kasih, Dok.”
Dokter itu tersenyum tipis dan berpamitan, meninggalkan mereka berdua di lorong yang kembali sepi. Hanya ada suara AC sentral dan langkah kaki dari kejauhan.
Alana masih berdiri di tempat, tidak langsung bergerak. Pandangannya tertuju ke lantai, jemarinya saling menggenggam erat. Wajahnya tampak murung, matanya kehilangan cahaya seperti biasanya.
Daska melangkah mendekat. “Alana,” panggilnya pelan, “bagaimana pemeriksaannya?”
Alana mengangkat wajah, menatap Daska dengan mata yang mulai berkaca. “Seperti yang tadi dokter bilang, nggak ada perubahan... Masih sama seperti bulan lalu. Seperti enam bulan lalu. Bahkan... seperti dua tahun yang lalu.”
Suara Alana bergetar. “Kata dokter, kemungkinan aku bisa pulih sepenuhnya itu kecil, Mas. Mereka bilang ada bagian dari otakku yang terlalu lama kehilangan akses terhadap ingatan tertentu. Kalau pun bisa kembali, itu akan sangat... bertahap. Dan belum tentu semuanya akan kembali.”
Daska menatapnya tanpa berkata-kata. Lalu, perlahan, ia menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya. Mengusap lembut punggungnya yang mulai bergetar karena tangis tertahan.
“Sst... Tenang, Alana. Kamu kuat. Ini belum selesai. Kita belum selesai,” bisiknya di dekat telinga wanita itu. “Kamu akan baik-baik saja. Kita akan terus coba, terus jalan. Aku di sini.”
Alana membenamkan wajahnya di d**a Daska, membiarkan air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Pelukannya erat, seolah tak ingin kehilangan pegangan satu-satunya.
Namun, di balik ketenangan yang ditunjukkannya, hati Daska berkecamuk. Ada bagian dalam dirinya yang menjerit, bukan karena keadaan Alana, tapi karena perasaannya sendiri yang kini tak lagi sesederhana dulu. Ia menggenggam seseorang yang kehilangan sebagian masa lalunya… Sementara ia sendiri, diam-diam, sudah mulai menaruh seluruh masa depannya pada sosok lain.
Serenea.
Dan Daska tahu… semuanya tidak akan semudah itu lagi.
“Mas...” ucap Alana pelan. Mengurai pelukannya.
“Aku jadi berpikir sesuatu,” katanya kemudian. Ia menatap Pria di hadapannya lekat namun juga sendu. “Aku ... berpikir untuk menghentikan pemeriksaan ini. Aku lelah, Mas...”
“Kamu ... yakin?”
Alana mengangguk. “Kembali ataupun tidak ingatanku, tidak akan merubah apapun kan, Mas? Selama kamu disini, di sisi aku, aku merasa semua akan tetap baik-baik saja.”
Daska mencoba tersenyum meski hatinya kini berantakan. Ia mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut puncak kepala Alana. “Apapun keputusanmu, Alana. Aku akan selalu mendukungmu.”
Dan, Alana memeluk Daska erat, seolah tak akan pernah melepaskannya.
***