45 | Sekarang, Ya? Aku Butuh Pelukan

2323 Words

Begitu Lira pulang lebih dulu dan suasana pantry kembali lengang, Nea hanya bisa terduduk. Punggungnya bersandar pada sandaran kursi kayu yang dingin. Dunia terasa terlalu sunyi, tapi pikirannya justru riuh oleh gema penyesalan yang terus berulang. Ngapain sih gue semalam? Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, mencoba menahan air mata yang nyaris tumpah. Tapi gagal. Sesuatu dalam dirinya mulai retak—entah rasa bersalah pada Edgran, atau luka lama yang kembali terbuka lebar. Nea telah mengakui segalanya, juga mengatakan dengan gamblang tentang isi hatinya. Seharusnya, ia merasa lega, bukan? Seharusnya beban itu menguap dan tak lagi mengendap, kan? Tapi mengapa masih ada bagian dari dirinya yang merasa begitu penuh hanya dengan satu sentuhan dari Daska? Bahkan rasa itu semakin ku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD