Setelah kepergian Edgran, Daska melangkah masuk meski belum dipersilakan oleh si empunya ruangan. Ia menutup pintu di belakangnya lalu berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Nea. Pandangan keduanya bertemu dan lewat sorot mata itu Daska bisa melihat dengan jelas bagaimana perasaan Nea sekarang setelah perpisahan yang terjadi beberapa saat yang lalu. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menarik Nea ke dalam pelukan. Salah satu tangannya mengusap pelan kepala Nea yang tepat berada di dadanya, seperti sedang berusaha mentransfer energi yang setidaknya bisa membuat wanita dalam pelukannya jauh lebih tenang. “Mas denger semuanya, ya?” gumam Nea pelan di tengah pelukan. Kedua tangannya menyusup, memeluk tubuh itu seolah sedang memeluk seluruh dari hidupnya. “Nggak sengaja dengar, Sayang.

