Fajar di perbukitan selatan Jakarta menyapa dengan keanggunan yang belum pernah dirasakan Lily Rosemont sebelumnya. Kabut tipis yang biasanya terasa dingin dan menyesakkan di apartemen lamanya, kini tampak seperti selimut sutra yang memeluk lembah hijau di bawah rumah baru mereka. Cahaya matahari mulai merambat masuk, menyinari lantai kayu jati yang masih beraroma hutan segar. Di ruang makan yang luas, Lily duduk terdiam dengan sebuah buku catatan kulit di hadapannya. Jemarinya memutar-mutar pena perak, sementara pikirannya dipenuhi dengan ribuan detail kecil. Ia baru saja mulai menuliskan daftar panjang: dari jenis katering yang harus memastikan privasi, hingga logistik transportasi untuk para tamu undangan yang sangat terbatas agar tidak tercium oleh radar media. Bagi Lily, pernikahan

