Malam telah turun sepenuhnya di perbukitan selatan Jakarta, menyelimuti rumah baru yang kini telah resmi menjadi benteng perlindungan paling suci bagi Ethan dan Lily. Di ruang tengah yang luas, sisa-sisa rencana pernikahan yang baru saja dibahas bersama tim profesional masih tertata rapi di atas meja marmer putih. Ada tablet digital yang layarnya sudah menggelap, beberapa sampel kain sutra gading yang lembut, dan aroma melati dari katalog bunga yang dipilih Lily masih tertinggal di udara. Namun, perhatian Ethan tidak lagi tertuju pada detail logistik atau anggaran katering. Matanya tertuju sepenuhnya pada Lily, yang berdiri mematung di dekat jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menatap pemandangan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan seperti taburan

