"Aku ingin kita menikah di taman bawah sana, Ethan," Lily menunjuk ke arah area terbuka di belakang rumah yang menghadap langsung ke lembah. "Di bawah langit yang terbuka. Aku ingin altar kita terbuat dari kayu jati alami, dililit oleh bunga-bunga liar yang aromanya terbawa angin sore. Aku tidak ingin ada orkestra besar. Hanya satu pemain cello atau biola, memainkan melodi yang jujur. Aku ingin suara alam—gesekan daun dan kicauan burung—menjadi musik latar pernikahan kita." Ethan mencatat visi itu di dalam pikirannya dengan sangat detail. Ia membayangkan Lily berjalan di atas rumput hijau, diterangi oleh cahaya matahari yang mulai meredup, menuju ke arahnya. "Dan bagaimana dengan waktunya?" tanya Ethan. "Matahari terbenam," jawab Lily tanpa ragu. "Saat cahaya berubah menjadi warna ema

