Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan kebisingan mesin dan kepulan polusi yang menyapa cakrawala, namun di dalam penthouse lantai lima puluh lima milik Ethan Blackwell, suasana terasa seperti berada di dalam gelembung waktu yang kedap suara. Setelah malam yang panjang penuh dengan perumusan strategi bisnis dan penyatuan gairah yang intens di atas meja kerja, Lily Rosemont terbangun dengan perasaan yang aneh—sebuah ketenangan yang tidak biasa. Ia melihat ke samping, mendapati tempat tidur sudah kosong, namun aroma maskulin Ethan masih tertinggal kuat di bantal sutra mereka. Lily tersenyum tipis, teringat bagaimana rencana bisnis "The Blackwell Legacy" yang ia susun kemarin kini telah menjadi dokumen paling berharga dalam hidupnya, sebuah paspor menuju masa depan yang ia rancang sendiri.

