Oliver berdiri di depan cermin besar. Pria itu menatap pantulan dirinya dari dalam kaca. Sebenarnya dia tidak mau direpotkan dengan urusan fitting jas pengantin. Untuk apa? Namun, karena mamanya terus marah-marah, akhirnya Oliver datang ke butik. Oliver menghentak napasnya. Bola mata pria itu bergerak menemukan seseorang yang berdiri di belakangnya. Oliver melebarkan dua tangannya. Membuat pria yang berdiri di belakangnya itu bergegas memasukkan lengan jas ke tangannya kemudian menariknya ke atas. Pria yang tidak lain adalah sang desainer itu kemudian melangkah ke depan Oliver lalu memasang kancing jas tersebut. Setelah merapikan sekali lagi, pria itu menggeser langkah ke samping supaya Oliver bisa melihat penampilannya memakai setelan jas hasil karyanya. “Bagaimana, Tuan?” tanya pri

