Bab 163

1148 Words

Pagi itu rumah masih terasa sedikit lengang ketika Fabian sudah lebih dulu bangun. Rambutnya acak-acakan, kaus tidurnya sedikit terangkat, dan matanya masih setengah mengantuk. Namun begitu ia melangkah ke ruang tengah dan melihat Luna dan Leon sudah duduk di karpet sambil memainkan balok warna-warni, matanya langsung berbinar. “Luna! Leon!” teriak Fabian nyaring. Dua bocah kembar itu menoleh bersamaan. “Kakak!” seru Luna sambil tertawa. Leon ikut berdiri, baloknya jatuh ke lantai. “Kakak Fabian!” Fabian langsung berlari menghampiri mereka, duduk di lantai, lalu ikut menyusun balok meski sebenarnya lebih sering merusaknya. “Kita main apa?” tanya Fabian penuh semangat. “Mau main lari,” jawab Leon. “Di rumah nggak boleh lari,” sahut Luna meniru kata-kata Mamanya. Fabian mengerutkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD