Jay terbangun perlahan ketika matanya menangkap cahaya matahari yang menyelinap dari balik tirai ruang tengah. Tapi bukan cahaya itu yang membuatnya membuka mata sepenuhnya—melainkan aroma masakan yang harum, hangat, dan langsung membuat perutnya merespons dengan pelan. Aroma tumisan lembut, seperti bawang yang ditumis dengan mentega, bercampur dengan wangi telur yang sedang dimasak. Ada juga aroma roti yang sepertinya sedang dipanggang atau dipanaskan. Begitu semua aroma itu semakin memenuhi ruang tengah, Jay spontan mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba memastikan ia tidak sedang bermimpi. Ia bangun perlahan, menarik selimut dari tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya masih memancarkan senyum kecil yang tidak hilang sejak malam sebelumnya. Ia menoleh menuju dapur keci

