Bab 124

3020 Words

Pagi itu rumah Celine dan Frans jauh lebih sibuk daripada biasanya. Matahari bahkan belum naik sempurna, tetapi Jay sudah mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah panik, rambut disisir berkali-kali walau tetap saja kembali sedikit berantakan. Kemeja putih bersih yang dipakainya seakan memaksanya untuk terus bertanya-tanya apakah dirinya terlihat cukup pantas. “Napas, Jay,” ucap Celine sambil berdiri di pintu dapur sambil memegang mug kopi. “Baru jam sembilan pagi, janjiannya jam sebelas. Kamu sudah mau pingsan dua jam sebelumnya?” Jay memijat lehernya. “Aku takut telat.” “Kamu bisa berangkat jam sepuluh. Perjalanan cuma lima belas menit,” sahut Celine. “Kalau macet?” Jay membalas cepat. “Kalau macet pun kamu bakal sampai duluan,” kata Celine dengan nada geli. Jay menghela napas panja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD