Pagi itu rumah masih begitu tenang ketika suara kecil dari kamar Fabian mulai terdengar. Fabian membuka pintu kamar dengan rambut acak-acakan, piyama masih longgar, dan langkah kaki kecilnya berlari ke kamar utama. Dia memanjat kasur dengan semangat luar biasa, lalu menepuk pipi Celine pelan. "Mama bangun… ayo berangkat… ayo Mamaaa!" serunya dengan suara serak bangun tidur. Celine yang masih tertutup selimut hanya bisa mengerang kecil. Dia membuka mata perlahan, melihat wajah putranya itu begitu dekat, dan langsung tertawa kecil. "Fabian… sayang… masih jam enam pagi. Tempat bermainnya buka jam sepuluh." "Tapi Fabian mau sekarang," jawab Fabian sambil memeluk lengan mamanya kuat-kuat. "Cepat Mama bangun… cepat!" Celine mengusap rambut anaknya sambil meringis kecil. "Fabian mandi dulu? M

