Bab 173

2006 Words

Celine menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya naik turun hebat. Tangisnya bukan tangis dibuat-buat, bukan juga tangis manja yang biasa ia keluarkan saat ingin sesuatu. Tangis itu penuh sesak, seolah semua perasaan yang ia pendam sejak pagi tumpah bersamaan. Frans langsung mematikan konsol game di tangannya. Televisi yang tadi penuh suara tembakan dan tawa Fabian mendadak sunyi. Frans berdiri cepat, wajahnya berubah tegang. Langkahnya lebar mendekati Celine. “Sayang… kenapa?” suaranya turun, jelas khawatir. Matanya refleks turun ke perut Celine yang sudah mulai membulat. “Perut kamu sakit? Kamu pusing?” Fabian yang tadi duduk bersila di karpet ikut berdiri. Bocah lima tahun itu berjalan mendekat, wajahnya bingung sekaligus panik melihat magmanya menangis kencang. Tangannya yang ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD