Alena menatap layar ponselnya lama. Jemarinya gemetar saat mengetik pesan terakhir. “Besok malam, kita ketemu di tempat biasa. Aku butuh pekerjaan cepat,” tulisnya. Beberapa menit kemudian, pesan balasan masuk. “Bawa uang muka. Aku nggak kerja cuma pakai janji.” Alena menarik napas panjang. Ia tahu risikonya. Tapi kali ini dia sudah tidak peduli. Selama Celine masih hidup, selama Frans masih tersenyum di samping wanita itu, hidupnya akan terus terasa seperti neraka. Keesokan malamnya, ia datang ke gudang tua di pinggiran kota. Lampu neon redup, bau besi dan debu bercampur. Seorang pria berjaket hitam berdiri di ujung ruangan, wajahnya setengah tertutup masker. “Lo yang butuh jasa itu?” suaranya serak. “Iya. Gue Alena,” jawabnya singkat. “Gue mau lo hilangkan satu orang.” Pria itu t

