Bab 150

834 Words

Fabian terbangun ketika cahaya pagi baru saja menyelinap masuk melalui celah gorden kamarnya. Matanya yang masih setengah terpejam menatap langit-langit, lalu tubuh kecilnya berguling bangun. Ia turun dari ranjang tanpa suara, berjalan pelan menuju pintu kamar Mama dan Papanya. Pintu itu sedikit terbuka. Fabian berdiri jinjit, mengintip ke dalam. Mama dan Papanya masih tertidur lelap. Selimut menutup hingga d**a, napas keduanya teratur dan tenang. Fabian berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar. “Mama… Papa…” Tidak ada jawaban. Fabian mengerutkan kening kecilnya. “Masih tidur,” gumamnya polos. Ia tersenyum sendiri, lalu berjalan mundur pelan-pelan agar pintu tidak berdecit. Begitu yakin tidak ada suara, Fabian keluar kamar dan menuju koridor besar rumah itu. Rumah Celine memang l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD