Siang itu rumah Frans dan Celine begitu tenang. Matahari menyusup lembut lewat jendela besar ruang tamu, menerangi karpet tebal tempat Celine duduk bersila sambil menatap papan catur yang sudah ia siapkan di atas meja rendah. Wajahnya penuh semangat, matanya bersinar-sinar seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru. “Frans! Cepat sini!” serunya dari ruang tengah. Frans yang sedang membaca dokumen kerja di ruang sebelah hanya mendengus kecil tapi tak bisa menahan senyum. Ia tahu betul kalau nada itu artinya satu hal: Celine punya ide baru yang biasanya berakhir dengan kekacauan kecil tapi juga tawa besar. Ia menutup berkas, berjalan ke ruang tamu sambil masih mengenakan kemeja yang belum sempat dilepas. “Ada apa lagi kali ini, Celine?” tanyanya sambil tertawa kecil. Celine menepu

