Siang itu di kantor pusat milik Frans Devaron, suasana tampak begitu sibuk. Para karyawan berlalu lalang di sepanjang lorong dengan membawa dokumen dan berkas-berkas proyek besar yang tengah dikerjakan. Namun di dalam ruangan pribadi di lantai paling atas, suasana justru tenang. Frans duduk di balik meja besar berlapis kaca bening, matanya menatap layar laptop dengan ekspresi serius namun sesekali tampak tersenyum kecil. Di hadapannya berdiri seorang lelaki muda bernama Kevin — asisten pribadi yang sudah tiga tahun bekerja untuknya. Lelaki itu mengenakan setelan hitam rapi dan selalu membawa tablet untuk mencatat setiap instruksi dari sang atasan. “Kevin,” suara Frans terdengar tegas namun tenang, nada khas yang menunjukkan bahwa ia sedang berpikir sesuatu yang penting. “Kamu masih ingat

