Pagi itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Matahari baru saja naik, cahayanya menembus tirai tipis ruang makan. Celine duduk di kursinya sambil menopang dagu, menatap piring kosong di depannya. Wajahnya terlihat serius, seperti sedang memikirkan hal yang sangat penting. Frans yang baru saja menuangkan kopi berhenti bergerak ketika melihat ekspresi istrinya. “Kenapa, Ma?” tanya Frans pelan. Celine menoleh perlahan. “Pa…” “Iya?” “Aku pengin makan.” Frans tersenyum kecil. “Ya jelas, kamu kan hamil.” “Tapi ini beda.” Fabian yang sedang mengoles selai di rotinya langsung mengangkat kepala. “Beda gimana, Ma?” Celine menelan ludah. “Aku pengin nasi uduk.” Frans mengangguk santai. “Oke, nanti Papa beliin.” “Tapi…” Celine menggantung kalimatnya. Fabian menyipitkan mata. “Tap

