Bab 157

1259 Words

Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Setelah Fabian tertidur dengan pelukan bonekanya, Celine dan Frans duduk lama di kamar mereka, lampu sengaja diredupkan, suara malam menyelinap pelan lewat jendela. Frans duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Celine memeluk lututnya sendiri, menatap kosong ke depan. “Pa…” suara Celine pelan, hampir ragu. “Iya?” Frans menoleh. “Kamu beneran kepikiran omongan Fabian tadi malam?” Frans mengangguk tanpa ragu. “Iya.” Celine tersenyum kecil. “Aku kira cuma omongan anak kecil.” “Awalnya aku juga mikir gitu,” jawab Frans jujur. “Tapi dia ngomongnya bukan asal.” Celine menghela napas panjang. “Dia sampai bilang gak mau sendirian.” Frans menggeser tubuhnya mendekat. “Dan dia gak minta mainan. Dia minta adik.” Celine menunduk. “Aku t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD