Bab 2: Viral

883 Words
Hari itu sekolah begitu ramai dengan berita yang beredar. Seorang selebgram cantik yang ternyata adalah seorang sugarbaby seorang pengusaha dilabrak seorang istri sah. “Pantesan hedon banget hidupnya. Ternyata ada sugardaddy yang sponsori.” “Mana bisalah sehedon itu kalau cuma ngandelin endorse-an. Iya enggak, Ra?” “Hah? Apa?” Lyra yang baru datang celingukan ketika ditanya. “Lo belum buka sosmed pagi ini?” Saras menarik Lyra menjauh. “Ada apa memang?” Saras menunjukkan berita yang baru saja viral dan dibicarakan anak-anak seusia mereka. “Hah? Ini beneran, Ras?” “Ya lo lihat aja sendiri. Lo kan lebih tahu kemungkinannya bener apa enggak.” Lyra melongo. Perempuan muda yang dilabrak itu adalah orang yang belum lama ia hadiri pesta ulang tahunnya hingga membuatnya pulang begitu larut. Pesta itu memang begitu mewah dan meriah yang mungkin saja baru berakhir saat pagi menjelang. “Gue beberapa waktu lalu diundang ke ulang tahunnya.” “Sumpah lo? Dirayain dimana emang?” Lyra mengangguk. “Di butterly.” “Hah? Seriusan? Ulang tahun aja di butterfly? Pantesan rela jadi sugar babynya om-om.” “Masa sih dia sampai begitu.” Saras mencibir. “Lo itu terlalu naif tahu enggak.” Lyra menekuri ponselnya mengkonfirmasi gosip yang baru saja didengarnya. Berharap semua yang ia dengar tidak benar. Gadis itu mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dari Lyra. Cantik dan menarik. Body goalnya sempurna. Lyra tahu ia rajin ke gym dan perawatan di salon. “Lo pikir deh, Ra, berapa biaya dia ke salon dan ke gym. Belum lagi gaya hidupnya yang hedon dengan bermacam barang branded itu. Memang seberapa besar penghasilannya dari endorse?” “Jangan suudzon gitu deh, Ras. Siapa tahu dia memang anak orang kaya kan?” “Kalau anak orang kaya, dia gak akan berkeliaran di Jakarta, Ra. Kuliah di luar negeri dia.” Lyra menekuk bibirnya. Alasan Saras memang banyak benarnya. Tapi masa iya sih jadi simpanan om-om? * Lyra turun ke bawah setelah ibunya memanggilnya beberapa kali. “Kalau orang tua manggil tuh cepetan turun,” ucap ayahnya. “Tanggung lagi ngerjakan tugas.” “Tugas apa? Bikin video lagi?” “Tugas sekolah. Papa gak percayaan amat sama Lyra.” “Memang kadang kamu gak bisa dipercaya.” “Papa, Lyra, udah. Makan dulu. Kalau ketemu ribut aja, kalau gak ada dicariin.” Mereka makan dalam diam. Ayah Lyra tampak masih kesal dengan tingkah putrinya. Beliau ingin agar Lyra bisa masuk di universitas negeri terbaik seperti kakaknya. Tapi tampaknya, harapannya kali ini tak bisa terpenuhi. “Ra, kamu sudah tahu mau ambil apa nanti kuliahnya?” Lyra menggeleng. “Harus kuliah ya, Ma?” “Memang mau apa kalau gak kuliah? Mau keluyuran terus tiap hari?” ayahnya langsung naik pitam. “Kan Lyra bisa kerja, Pa.” “Kerja apa anak baru lulus SMA? Kerja pabrik? Atau pelayan toko?” “Papa, jangan terlalu merendahkan gitu. Banyak kok orang yang cuma lulusan SMA bisa sukses.” “Eh, Sayang, Papa bukan merendahkan. Tapi memang faktanya begitu. Sekarang Mama nanya, kamu mau kerja apa dengan ijazah SMA-mu itu? Kalau memang kamu punya planning yang jelas, mungkin Mama Papa bisa pertimbangkan.” “Mama,” ayah Lyra seolah tak terima. “Sekarang ceritakan apa rencanamu.” Lyra diam. Dia memang belum punya rencana apapun. Yang jelas kuliah tidak masuk dalam rencana Lyra. Lyra ingin bernapas sejenak dari rutinitas sekolah yang menurutnya menjemukan. “Kamu gak punya rencana? Padahal dulu waktu kecil kamu paling semangat lho, Sayang, kalau diminta menceritakan cita-citamu,” ucap ibu Lyra. Lyra mengerjap. Ibunya memang begitu perhatian. Dia begitu tenang menghadapi semuanya. Berbeda dengan ayahnya yang meledak-ledak. “Lyra pingin keliling dunia.” Lyra ingat betul kalimat itu. Kalimat yang ia berikan setiap kali orang lain menanyakan cita-citanya. Tak ada yang berubah. Hanya satu itu yang menjadi cita-citanya, ingin keliling dunia. * “Lyra, buka foto yang gue kirim,” ucap Saras di telepon dengan memaksa. “Apaan?” “Buka aja cepet.” Saras menutup panggilan teleponnya. Lyra membuka foto screenshoot dari sebuah media yang memberitakan seorang selebgram muda yang viral karena dilabrak istri sah sugar daddynya. Lyra melongo. Dari sekian foto yang terekam, kenapa justru foto dirinya yang ikut terpampang di media? “Mati aku,” gumam Lyra menutup wajahnya. Bagaimana kalau kedua orang tuanya membaca media tersebut? Atau ada orang yang mengenalnya dan memberitahukan orang tuanya? “Ras, gimana bisa mereka malah pakai foto yang ada guenya. Kayak gak punya stok foto lain aja mereka,” Lyra akhirnya menelpon balik Saras. “Lo inget gak, lo udah bilang ke gue gak akan ke sana,” Saras malah mengomelinya. “Sorry. Gue gak ngerti gimana caranya nolak meraka. Mereka lagi ngehits banget. Gue gak mungkin sok gak butuh mereka.” “Lo takut reputasi lo yang baru mulai naik itu disenggol mereka kan?” “Mereka kan lagi menguasai media sosial, Ras. Apa yang mereka omongin pasti diiyain sama netizen. Gue gak mau mereka ngomongin jelek gue. Karena yang gak bener pun bisa jadi kebenaran karena base follower mereka udah banyak.” “Serah lo dah. Gue gak mau ikut campur. Pokoknya jangan bawa-bawa gue kalau lo disidang sama orang tua lo.” “Dih bantuin gue napa, Ras.” “Kagak.” “Ras.” Saras menutup sambungan telepon mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD