Lyra akhirnya bisa bernapas lega, setelah beberapa hari berlalu dan orang tuanya tak membahas sedikitpun perihal berita selebgram dilabrak istri sah. Ia bisa kembali menjalani aktivitasnya dengan ringan, sambil berusaha tak mengabaikan sekolahnya.
Dalam pikiran Lyra, selama ia bisa menghandle sekolahnya dengan baik, maka orang tuanya tak akan mempermasalahkan pilihan-pilihannya di luar sekolah. Setidaknya begitu yang diyakini pikiran remajanya yang mudah berubah haluan terbawa arah angin yang berhembus paling kuat.
Lyra tak pernah lagi memaksa keluar rumah di hari-hari sekolah. Tapi begitu akhir pekan, ia akan mencari seribu satu alasan agar kedua orang tuanya mengijinkannya keluar. Tugas dan ujian akhir sekolah menjadi alasan andalan Lyra.
Akan tetapi, di balik itu semua adalah nongkrong bersama teman-teman selebgramnya. Lyra seakan menemukan dunia yang begitu menarik perhatiannya. Ada banyak hal baru yang ia pelajari bersama komunitas barunya. Kadang ia mengajak Saras bersamanya. Tapi sahabatnya itu seringnya menolaknya.
“Ras, ayo dong ikut.”
“Enggak.”
“Gak asyik lo ah.”
“Biarin. Gue enek tahu lama-lama liat gaya hidup temen-temen lo itu. Dikit-dikit belanja, ke salon, nongkrong. Belum lagi dugem. Ya jelas aja lama-lama pada jadi sugar babynya om-om, sekali nongkrong aja jutaan modalnya.”
“Ih tapi kan gak semua begitu, Ras.”
“Iya. Yang enggak yang emang dari keluarga the have kan? Karena modalnya udah lebih-lebih dari orang tuanya. Yang dari keluarga biasa aja?”
Lyra cemberut. Omongan Saras memang benar semua.
“Hati-hati lo, Ra.”
“Saras, kok lo nyumpahi gue gitu.”
“Gue ngingetin elo.”
“Tapi itu kayak doain juga tahu enggak.”
“Makanya stop. Jangan terlalu jauh terlibat sama mereka.”
Lyra terdiam. Sepertinya, Saras sudah tak sejalan dengan dirinya.
*
Perlahan, gaya hidup Lyra berubah. Meski ia berusaha agar orang tuanya tak menyadari ritme hidupnya, tapi ibunya terlalu perhatian pada perubahan putrinya.
Saat mendapati baju baru di keranjang cucian, ibu mencatat dalam kepalanya brand apa yang menempel di baju tersebut. Begitu juga dengan kemasan-kemasan pembungkus yang dibuang Lyra di tempat sampah. Ibunya mencatat semua itu kemudian mencari tahu sendiri.
Uang saku Lyra termasuk tak berlebih, meski tak juga bisa dikatakan kurang. Ayahnya meski teramat kaku, tapi Lyra memiliki ibu yang bisa mengimbangi ayahnya. Menjadi penengah antara dirinya dan ayahnya hingga tak terjadi perpecahan yang dikhawatirkan.
Dan, ibunya juga yang pertama menegurnya tentang semua barang branded itu suatu hari. Meski bukan barang high end, tapi harga barang-barang tersebut jelas cukup mahal untuk sang ibu.
“Mama kayaknya lihat beberapa baju kamu baru, Ra,” ucap ibunya saat Lyra memasuki dapur suatu hari saat ibunya sedang mencuci perabot.
“Baju mana?”
“Itu ada di jemuran. Mahal ya?”
“Hmmm. Enggak.”
“Uangmu dari endorse sudah tambah banyak?” ibu mengelap tangannya yang basah setelah menyelesaikan pekerjaannya.
“Lumayan. Itu barang endorse juga kok Ma,” Lyra beralasan.
“Mama cek di internet harganya lumayan juga ya.”
Lyra terdiam. Ibunya memang detektif paling handal di rumah. Beliau tak akan segan mencari segala macam informasi yang dibutuhkannya di internet.
“Biasanya harga akan menyesuaikan kualitas, Ma.”
“Iya sih. Tapi jangan terlalu terbawa arus ya, Ra. Namanya model, gaya hidup, kan berubah terus. Kalau kamu terbawa arus, Mama khawatir kamu hanyut dan tenggelam.”
Lyra terdiam. Ia hanya mengangguk seraya keluar dari area dapur. Ibunya entah seberapa banyak tahu tentang dunia yang tengah digeluti Lyra. Tapi, ibunya, jelas orang yang tak segan untuk mencari tahu.
Beruntung perempuan itu tak pernah meledak-ledak ketika menegur Lyra. Berbeda dengan ayahnya yang cenderung impulsif. Ibunya relatif tenang tapi selalu mengena tepat pada sasaran.
Lyra duduk di ruang tengah sembari menscrolling ponselnya. Ada beberapa ajakan dari teman-temannya sesama selebgram. Lyra memang mulai aktif mengikuti beberapa komunitas untuk meningkatkan performanya. Ia begitu serius mengelola sosial medianya agar bisa menghasilkan uang yang tak sedikit.
“Hape saja terus. Kamu gak belajar?” tegur ayahnya.
“Kan udah selesai, Pa, ujiannya. Kemaren-kemaren Lyra belajar terus lho.”
“Belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.”
Lyra mencebik. Ia sama sekali tak punya keinginan masuk ke perguruan tinggi negeri. Kalaupun harus kuliah, Lyra akan mencari kampus yang tak terlalu ketat terhadap mahasiswanya. Ia ingin tetap memaksimalkan peran yang baru saja ia nikmati hasilnya itu.
Jika masuk ke perguruan tinggi dengan tingkat kesulitan tinggi, Lyra tak yakin ia bisa menjalankan pekerjaan sampingannya itu. Tugas-tugasnya pasti akan banyak, dan jam kuliahnya begitu padat.
“Aku gak mau ikut ah, Pa.”
“Apa-apaan kamu ini. Memang kamu mau apa kalau gak kuliah.”
“Aku bisa kerja, Papa. Toh kuliah juga ujungnya buat nyari kerja kan. Jadi mumpung aku bisa kerja, aku sambil kerja aja. Aku gak mau kuliah di kampus yang ngasih nilainya pelit dan ijinnya susah.”
“Kamu ini!”
Lyra memilih naik ke kamarnya daripada berdebat dengan ayahnya. Dia akhirnya memang memutuskan akan tetap mengikuti keinginan orang tuanya untuk tetap kuliah. Tapi ia akan mencari sendiri kampus yang memungkinkannya untuk meniti karir sebagai selebgram.
*
Lyra mengikuti beberapa orang temannya keluar masuk butik di mall. Dia berhenti begitu mereka menuju sebuah butik high end yang menjual tas dengan harga minimal setara UMK Jakarta.
“Kayaknya aku perlu ke toilet,” ucap Lyra.
“Sendiri gak apa-apa kan? Kita mau liat tas terbaru mereka.”
Lyra mengangguk. “Gak apa-apa. Kalian lanjutin aja belanjanya.”
“Kita tunggu di sini ya, Lyr.”
“Oke,” Lyra mengangkat tangannya dengan ibu jari dan telunjuk membentuk huruf O.
Dia menghela napas. Ini bukan kali pertama Lyra mengikuti mereka berbelanja. Dan dia juga tahu seberapa besar kemampuan finansial mereka. Tak satupun dari mereka berasal dari keluarga old money yang bisa leluasa keluar masuk butik high end.
Kalaupun mereka punya uang, tetap saja tak sebebas itu keluar masuk butik setiap pekan hanya demi gengsi dan reputasi.
***