Zahra mengusap pelipis yang mulai banjir keringat. Sambil menunggu orang yang dihubungi menerima panggilan darinya, Zahra berjalan menuju Lemari. Wanita itu meringis. Sakit di perutnya semakin bertambah. “Mas, angkat,” pinta Zahra yang sayangnya tidak terjawab. Hingga nada dering berhenti, Naka masih tidak menerima panggilan darinya. Mendesah kecewa, Zahra menurunkan ponsel. Sudah tiga kali dia mencoba menghubungi. Tersambung, tapi, tidak diangkat. Membuka lemari, Zahra menarik satu tas yang sudah ia siapkan untuk keperluan persalinannya. Pakaian bayinya dan beberapa potong daster miliknya. “Sayang, tunggu. Biar Mama yang bawa. Ayo, supir sudah siap. Mama juga sudah menghubungi dokter. Naka sudah jalan?” tanya Naya di ujung kalimat. Wanita itu berderap menghampiri Zahra dengan wajah cem

