Keesokan harinya.
"Mas... Kamu benar-benar mau berangkat hari ini juga?"
Delvin mendekati sosok wanita yang duduk di atas ranjang sambil menggunakan selang oksigen di hidungnya. Lantas setelah dekat, dia menyergap dan mendekap tubuh lemah wanita itu.
"Iya, Sayang. Maaf ya, aku harus mengurusi pekerjaan dulu selama beberapa hari ke depan. Kalau pekerjaanku sudah selesai. Aku akan langsung pulang ke rumah dan menemui kamu," ucap Delvin sambil mengecup dahi dengan lembut dan penuh kasih wanita bernama Gretha ini yang merupakan istrinya.
"Kenapa mendadak, Mas? Terus juga, tumben Mas pergi sampai berhari-hari begini? Nggak ada yang Mas sembunyikan dari aku kan?" Wajah pucat dan kedipan mata perlahan membuat Delvin semakin ingin mendekap tubuh wanita ini dengan erat. Tetapi karena sedang rapuh, ia pun tidak bisa seleluasa itu dalam merealisasikannya.
"Hei, Sayang. Perkataan macam apa ini hm? Apa kamu sudah mulai curigaan dengan suami kamu sendiri? Apakah cintaku sedang kamu ragu kan hm?" Delvin memasang raut wajah tidak berdosa. Padahal, ia akan segera melakukan dosa terbesar di dalam rumah tangga mereka.
"Bukan, Mas. Bukan begitu. Tapi aku... aku merasa belum sempurna jadi istri kamu. Sejak menikah, aku sering bolak balik rumah sakit. Belum lagi, aku jadi nggak bisa secepatnya memberikan kamu keturunan. Jadi wajar kan, bila aku setakut itu?"
"Iya, Sayang. Aku paham. Aku paham sekali maksud kamu. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Kamu sembuhkan saja dulu tubuh kamu ini, masalah anak masih bisa kita usahakan nanti. Lagi pula, kamu masih muda. Belum sampai kepala tiga. Masih panjang dan banyak kesempatan kita untuk memiliki keturunan. Kalau tidak bisa langsung, ya kita bisa pakai cara bayi tabung. Benar kan? Yang pasti, aku hanya menginginkan keturunan dari kamu saja. Buah cinta kita nantinya."
Gretha tetap kelihatan lesu. Entah karena sakitnya atau karena memang pikiran yang tidak tenang sebab akan ditinggalkan oleh suaminya ini. Tapi memang ia tidak bisa setenang itu dalam melepaskan kepergian sang suami biarpun katanya demi pekerjaan.
"Sudah. Jangan kelihatan sedih begini. Kamu sedih aku pun sama sedihnya. Tapi pekerjaan ya tetap pekerjaan. Toh uangnya pun untuk biaya pengobatan kamu kan? Untuk siapa lagi memangnya."
Hati Gretha terasa berat. Tapi kalau memang demi pekerjaan dan uangnya untuk dirinya sendiri, ya mana mungkin ia bisa mencegahnya?
"Iya, Mas. Ya sudah. Tapi nanti kamu langsung kabari aku kalau sudah sampai ya?"
"Iya, Sayang. Nanti aku kabari kamu ya?" Sebuah kecupan kembali mendarat di dahi Gretha.
"Aku berangkat ya, Sayang? Dan aku akan segera pulang juga demi kamu," ucap Delvin, yang menatap kepada sang istri sesaat sebelum akhirnya mengecup pipi sang istri beberapa kali.
"Aku pergi sekarang ya?"
Gretha mengangguk pasrah dan Delvin pun keluar dari dalam kamar lantas menyusuri tangga ke bawah dan sampai ke mobilnya.
"Ayo jalan," perintah Delvin kepada asisten pribadinya yang akan mengantarkannya ke tempat tinggal orang tua Gianna.
Di kediaman Gianna yang baru, yang tentu saja jauh dari tempat Gianna bekerja. Karena Delvin tidak mau rencananya memiliki istri kedua ini diketahui oleh sang istri maupun keluarga istrinya.
"Kak Gia, calon suami kakaknya mana? Apa masih belum datang?" tanya Ganta adik Gianna yang masih duduk di bangku SMA kelas 2.
"Iya, Kak. Aku juga mau lihat calon suaminya kakak," ucap Griselda, adik bungsu Gianna yang duduk di bangku SMP kelas 3.
"Sabar. Nanti juga datang. Penghulunya udah datang emangnya?" tanya Gianna.
"Udah tuh, Kak. Udah nunggu di depan sama Mama," balas si bungsu, Griselda.
"Ta, Karena Papa udah nggak ada, kamu jadi walinya kakak ya? Udah hafalkan?" tanya Gianna kepada adik tertuanya ini.
"Iya, Kak. Aman!" Ganta mengacungkan ibu jarinya. Ia kira akan segera mengantarkan sang kakak kepada masa depan yang cerah dan juga indah.
"Gia... Calon suami kamu sudah datang, Nak," ucap ibunya Gianna yang muncul dari balik pintu kamar.
"Ayo, Kak. Grisel antar," ucap Griselda yang langsung menggandeng tangan Gianna. Ketiga anggota keluarga Gianna yang tersisa ini mengantarkannya ke hadapan penghulu dan ke sisi laki-laki yang baru kemarin melakukan negosiasi dengannya, hingga akhirnya kesepakatan pernikahan ini mereka buat.
"Baiklah. Karena semua syarat sudah lengkap dan para saksi maupun mempelai perempuan dan juga mempelai prianya sudah ada di sini, mari kita langsung saja aja acaranya. Saudara ini ya walinya?" tanya penghulu kepada Ganta.
"Iya, Pak. Saya walinya," ucap Ganta.
"Mari, jabat tangan saya," ucap bapak penghulu dan Gianna pun langsung berkeringat dingin.
Ini untuk keluarganya. Ini untuk masa depan adik-adiknya juga yang masih membutuhkan biaya untuk sekolah mereka. Sekali lagi, ia bukannya ingin merusak rumah tangga orang. Bukan. Ia hanya ingin keluarganya tidak kesusahan dan tidak merasa bingung dengan hari esok. Lagi pula, pernikahan ini bukan atas dasar cinta. Ia tidak mungkin dan tidak boleh sampai jatuh cinta, kepada pria yang kini sedang menjabat tangan adiknya ini dan mengucapkan kalimat-kalimat, yang akan membuatnya menjadi milik dia seutuhnya.
"Bagaimana para saksi? Sah!?" tanya si penghulu itu.
"Sah!" seru beberapa orang yang hadir di sini dan Gianna pun seketika menutup matanya. Karena itu artinya, babak baru yang entah akan baik ataupun buruk bagi dirinya sendiri ke depannya akan segera dimulai.
Setelah para tamu undur pergi. Gianna pun turut berpamitan juga kepada ibunya dan hendak ikut bersama Delvin sang suami.
"Kamu nggak menginap malam ini di sini?" tanya sang ibunda kepada Gianna.
"Nggak, Ma. Mas Delvin masih punya banyak pekerjaan yang harus diurus. Dia terlalu sibuk. Makanya, acara hari ini juga serba mendadak. Urus surat-surat buat buku nikahnya juga paling-paling menyusul, Ma," ucap Gianna sambil melirik kepada Delvin.
"Iya, itu benar sekali, Ma. Pekerjaan saya sedang menumpuk. Jadi maaf kalau saya tidak bisa berlama-lama di sini."
"Oh begitu. Ya sudah nggak apa-apa. Yang penting, kamu tolong jaga Gianna ya? Dan kapan-kapan main ke sini, pas kamu dan Gia lagi nggak terlalu sibuk."
"Iya baik. Kalau begitu, kami pamit pergi dulu," ucap Delvin yang sempat mengecup punggung tangan ibu dari Gianna dan masuk ke mobil sambil diikuti oleh Gianna juga.
Gianna tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah ibu dan adik-adiknya, lalu berhenti saat mobil yang ia tumpangi ini sudah mulai menjauh dari kediaman keluarga Gianna.
Di sebuah gedung apartemen.
Gianna nampak melihat-lihat setiap sudut dan langsung memalingkan muka, saat melihat Delvin membuka kancing kemeja putihnya.
Delvin mendekat dan berada di hadapan Gianna dengan kemeja putih yang kancingnya telah terbuka semuanya.
"Ayo mandi," ajak Delvin dan Gianna kelopak matanya terbuka dengan selebar-lebarnya.
"M-mandi? Kita mandi sama-sama?" tanya Gianna.
"Bukan. Mandilah sendiri. Saya masih ada urusan dan tolong jangan berisik juga bersuara," perintah Delvin yang kini mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Sana cepat pergi," perintah Delvin ketika melihat Gianna yang masih diam mematung.
"Oh iya baik." Gianna manggut-manggut dan lalu pergi dari hadapan Delvin, tapi langkahnya sedikit terhambat karena suara Delvin yang sedang menelepon seseorang.
"Halo, Sayang. Aku baru saja sampai."
Gianna melihat menghela nafas dan pergi ke kamar mandi dan setelah ia selesai membersihkan dirinya, Delvin yang sedang duduk-duduk di atas ranjang itu pun mulai melihat kepada dirinya. Bola matanya terlihat naik turun, seperti sedang menginspeksi lekukan yang tertutupi handuk saja.
Delvin bangun dan mendatangi Gianna, dia berdiri di sisinya dan sambil berkata, "Bukalah lemari yang sebelah kiri. Pilih yang terbaik dan pakai. Saya mau pergi mandi dulu," ucap Delvin yang lantas meninggalkan Gianna ke kamar mandi.
Gianna patuhi perintah dan ketika pintu lemari pakaian yang sebelah kiri dibuka ada banyak sekali pakaian tidur seksi yang tersusun rapi di dalamnya.
Gianna menoleh ke arah pintu kamar mandi. Sepertinya, ada yang benar-benar niat sekali hingga membeli lingerie sebanyak ini. Ini lebih dari sekedar satuan. Tapi ada belasan bahkan puluhan di dalam sini.
Gianna lakukan helaan nafas sebelumnya dan kemudian mengambil salah satu yang kelihatan masih sedikit sopan dan tidak terlalu transparan. Hampir serupa dengan piyama minji tapi yang ini berwarna putih.
Gianna pakai dan setelah itu, dia pergi duduk di tepian ranjang sambil menunggu Delvin datang.
Pintu kamar mandi terbuka dan seketika itu juga, bola mata Gianna sudah seperti hendak keluar saja dari tempatnya. Apa lagi ketika ia melihat Delvin yang tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya saja dengan selembar handuk, yang menutupi dari mulai pinggang hingga lututnya itu.
"Bangunlah!" perintah Delvin.
Gianna bangun dan melingkarkan kedua tangan pada tubuhnya sendiri. Malu sekali, biar sudah menjadi suami sekalipun, Delvin masihlah bak seseorang yang asing.
"Berputar," perintah Delvin lagi dan Gianna pun lakukan sesuai dengan perintah.
"Berhenti!" perintah Delvin lagi yang kemudian maju dan berdiri dengan jarak yang dekat sekali dari Gianna.
"Benar kamu masih perawan? Karena saya tidak suka ditipu!" cetus Delvin.
"Untuk apa aku bohong? Mas bisa... membuktikannya sendiri 'kan?" ucap Gianna yang terdengar berani padahal takutnya setengah mati.
Delvin tersenyum miring. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk menikmati santapannya yang masih segar ini. "Baguslah. Yang pertama kali mungkin akan terasa sakit. Tapi setelahnya tidak akan sakit lagi," ucap Delvin yang kemudian merengkuh leher Gianna dan saat akan memberikan kecupan, Gianna malah menahan dadanya hingga Delvin gagal untuk mengambil kecupan yang dia arahkan tepat di leher Gianna.
"Kenapa? Berubah pikiran? Saya sudah menuruti permintaan kamu untuk menikah dulu. Sekarang giliran kamu yang menuruti keinginan saya!" tegas Delvin dengan tatapan tajamnya yang seperti menusuk itu.
"B-bukan begitu. Tapi sesuai perjanjian, katanya nanti aku terima uangnya setelah menikah, 'kan?" Ingatan Gianna cukup tajam. Apa lagi ia berada di sini pun untuk hal yang satu itu. Biarpun takut dijamah, tapi jangan sampai ia lupa akan tujuannya berada di sini.
"Oh ya ampun. Kamu takut saya menipu kamu?" ucap Delvin yang terpaksa pergi ke nakas dulu untuk mengambil ponsel di sana dan mengirimkan uangnya ke rekening Gianna.
"Lihat. Sudah saya kirim. Lima puluh juta kan? Apa bisa kita mulai sekarang juga?" tanya Delvin sambil menunjukkan bukti transfer kepada Gianna.
Sudah tidak tahan rasanya. Beberapa bulan belakangan sudah cukup membuatnya merasa gila. Tapi tidak mungkin ia memaksa istrinya yang sedang sakit untuk melayaninya. Nanti, kondisinya malah semakin buruk.
"Iya, ya udah. Silahkan, Mas," ucap Gianna yang sudah tidak mungkin lari selain daripada menghadapi pria yang sedang kelaparan ini.
Tubuh Gianna langsung di dorong ke atas tempat tidur tanpa banyak basa-basi dan Delvin pun merayap naik ke atas ranjang serta ke atas tubuh Gianna, yang sudah tergeletak pasrah di bawah kungkungannya saat ini
"Tahanlah sedikit dan jangan banyak protes," ucap Delvin sambil berusaha untuk mendesak masuk ke dalam ruang sesak yang penuh dengan kenikmatan yang membuncah, hingga dara itu pecah dan bercampur dengan udara dingin ruang apartemen tersebut.