Gianna bertumpu pada kedua tangannya, seolah seluruh berat langit runtuh dan hanya lengannya yang sanggup menahannya. Waktu berjalan dengan cepat tetapi pergumulan itu belum juga menemukan muaranya. Ia berdenyut, liar, menguar bagai badai yang menolak reda.
Tubuhnya digerakkan dan digulingkan, seperti bara yang dibolak-balik agar nyalanya tak padam. Napasnya terengah, peluh mengilap di kulitnya seperti embun yang berada di padang panas. Ia ingin menghentikan kegilaan yang menggelegak itu, tetapi pusaran hasrat telah menjelma arus deras yang menyeretnya tanpa ampun.
Di belakangnya, kehadiran pria itu terasa seperti bayang-bayang malam. Pekat, mendesak dan tak terelakkan. Setiap gerak adalah gelombang dan setiap hentak adalah petir yang menyambar tanah kering. Irama itu kian cepat, kian menghujam, hingga jantung Gianna berdegup seolah hendak memecah tulang rusuknya sendiri. Lalu, pada detik yang menegang seperti tali yang ditarik terlalu kuat, terdengar lenguhan berat nan serak, dalam dan menggetarkan udara. Seolah sebuah simpul dilepaskan tiba-tiba, laju yang mengamuk itu terhenti. Hening jatuh di antara mereka, tebal dan berasap, menyisakan tubuh yang gemetar dan napas yang masih berkejaran.
Delvin menarik diri, ketika sudah selesai menuntaskan keinginannya. Benar-benar menakjubkan pikirnya. Ia tidak pernah merasakan sensasi yang seperti ini. Ia bebas berekspresi tanpa takut akan menyakiti. Biarpun istri pertamanya juga sama-sama masih perawan tapi butuh waktu, karena istrinya itu selalu meringis kesakitan. Ia mana tega menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu. Namun bila dengan Gianna, semakin kencang jeritan maupun erangannya, malah membuat ia semakin beringas dan juga bersemangat. Apa lagi dia adalah wanita yang sehat fisiknya. Mau digempur bagaimana pun, tidak akan membuatnya sampai jatuh pingsan.
Delvin menatap bercak-bercak merah pada seprai dan tersenyum dengan puas. "Ternyata memang masih perawan dan kamu juga benar-benar memuaskan. Saya akan tinggal beberapa hari di sini. Jadi, kamu tidak perlu kemana-mana dan pakai saja pakaian dari lemari sebelah kiri itu," ucap Delvin seraya pergi ke arah kamar mandi.
Gianna yang baru saja bangun sambil mengeratkan selimut di tubuhnya nampak mengernyit heran. Jangan pergi kemana-mana dan pakai lingerie sepanjang hari? Apa tidak akan masuk angin??
Ah gilanya dia.
Apa ia akan disuruh untuk melayaninya setiap saat? Benar-benar seorang maniak!
Gianna melilit tubuhnya dengan selimut dan kemudian pergi mencari segelas air untuk menghilangkan rasa dahaganya. Lelah. Pengalaman pertama yang sangat gila-gilaan. Apa memang seperti itu kalau laki-laki berhubungan? Seperti orang kesetanan.
Gianna kembali ke tempat tidur dan melihat seprai dengan banyak noda di sana. Termasuk dengan noda kegadisannya juga. Hilang sudah. Biarpun dengan suami sendiri. Tapi bagi laki-laki satu itu pasti pernikahan ini tidak ada harganya sama sekali.
Gianna tarik seprainya dan gulung. Sementara itu dia mengecek saldo rekeningnya dan mulai mengirimkan pelunasan hutang pada teman maupun pinjol, yang totalnya sebenarnya lebih dari uang muka yang sudah Delvin berikan. Karena semasa hidup dan beberapa tahun sebelum tutup usia sang ayah terus bolak-balik rumah sakit, rawat inap, obat-obatan, belum lagi biaya sekolah adik-adiknya juga. Membuat hutangnya jadi membengkak.
Tapi tidak apa-apa. Masih ada uang tunjangan perbulan serta gaji yang bisa ia manfaatkan untuk membayar sisa hutangnya serta akan ia kirimkan juga untuk biaya sehari-hari ibu dan adik-adiknya di rumah.
"Sudah. Pergilah mandi. Saya akan pesankan makanan," ucap Delvin.
Gianna bak kerbau yang dicucuk hidungnya. Dia menurut-menurut saja atas perintah yang dilayangkan untuknya. Sementara Delvin, dia pergi berpakaian lalu datang ke balkon kamar dan memesan makanan melalui ponselnya.
Makanan beres dipesan. Delvin duduk pada kursi yang ada di balkon dan mulai menghubungi nomor pelayan di rumahnya.
"Selamat malam, Tuan."
"Malam. Bagaimana keadaan istri saya. Apa dia sudah tidur?" tanya Delvin, untuk memastikan bahwa kondisi istrinya dalam keadaan yang baik.
"Nyonya tadi sempat meminta segelas air dan sekarang, Nyonya baru saja tidur, Tuan."
"Oh begitu. Baiklah. Pokoknya, pantau terus selama 24 jam dan laporkan perkembangannya. Saya tidak mau mendengar ada hal-hal buruk yang menimpa istri saya. Kalau sampai terjadi, kamu tanggung sendiri akibatnya!"
"Baik, Tuan. Kami di sini, akan selalu bergantian dalam menjaga Nyonya, Tuan. Jadi Tuan tidak perlu khawatir."
"Baguslah! Saya akan kembali menelepon besok pagi dan saya tidak mau ada kabar yang tidak mengenakkan yang saya dengar!"
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
Gianna berdiri di depan lemari pakaian sambil merutuki nasib. Apa yang mau dipakai olehnya sekarang? Di ruangan sedingin ini, malah disuruh memakai pakaian yang tipis.
Gianna buka lemari pakaian yang sebelahnya lagi saja dan di dalam sana banyak sekali pakaian yang normal dan bisa dikatakan lebih layak.
Lantas kenapa juga harus memakai pakaian yang bisa membuatnya masuk angin?
Gianna ambil pakaian dari sisi yang sebelah kanan. Tapi baru akan ditarik, Gianna malah tertegun dulu di sana. Kalau lelaki gila itu marah, karena kata-katanya tidak dituruti bagaimana?? Hilang nanti tambang uangnya. Mana baru lima puluh juta yang ia dapat. Untuk menutupi hutang-hutangnya pun masih belum cukup.
Niat awal ingin memakai pakaian yang lebih layak sedikit. Rasanya jadi harus Gianna urungkan. Gianna simpan kembali pakaian yang sudah sempat ditariknya tadi dan sekarang, ia beralih ke pintu lemari yang sebelahnya lagi dan mengambil salah satunya.
Gianna ambil gaun tidur tipis yang berwarna hitam, lalu dipadukan dengan outer berbahan satin dan menutupnya dengan segera serta mengikatkan tali di bagian pinggangnya.
"Kalau cuma pakai dalamnya aja apa nggak masuk angin? Dasar suami gila," gerutu Gianna yang kemudian menutup pintu lemari dan dikagetkan oleh Delvin yang rupa-rupanya sudah berada di belakang tubuhnya saja.
"Eh, Mas Delvin," ucap Gianna sambil tersenyum tapi ekspresi Delvin malah seperti orang yang lemas.
"Saya mengantuk. Mau tidur. Tapi saya sudah pesankan makanan. Nanti ambil saja. Sudah tinggal ambil. Saya mau tidur dulu dan habiskan sendiri saja," ucap Delvin.
"Oh iya, Mas," balas Gianna sambil memperhatikan Delvin yang langsung menelungkup di atas tempat tidur.
Gianna pergi ke sofa sambil membawa ponselnya. Menggenggam ragu dengan pikiran yang sedang menimbang baik maupun buruknya. Tadinya, ia ingin sekali bercerita kepada teman dekatnya tentang hal ini. Tentang apa yang telah terjadi. Tapi kalau sampai bocor ke luar, sama saja dengan cari mati. Sepertinya keputusan dia memang sudah benar. Kalau mau diungkapkan kepada semua orang pun, ia sama saja akan disebut sebagai perusak rumah tangga orang. Meskipun yang sebenarnya tidak begitu juga.
Ah ya sudahlah. Yang terpenting ia dapatkan uang dan juga pekerjaan baru. Hanya itulah yang penting untuk saat ini. Ia harus manfaatkan sebelum laki-laki itu membuangnya ketika sudah mulai bosan.
Makanan datang dan seperti pesan Delvin sebelum pergi tidur, ia harus menghabiskannya sendiri. Setelah makanannya habis, ia pun pergi tidur juga di atas ranjang sana, bersama laki-laki yang sudah menikahi plus menggagahinya juga.
Esok harinya.
Delvin bangun sebelum Gianna. Dia langsung mengambil ponsel dari atas nakas dan menghubungi istri tercintanya di rumah.
"Selamat pagi, Sayang," ucapan yang begitu lemah lembut terdengar di indra pendengaran Gianna.
Gianna terdiam dan memastikan ucapan itu untuknya atau bukan. Tapi sepertinya, pikirannya terlalu jauh.
"Bagaimana hari ini? Apa kondisi kamu sudah lebih baik?" tanya Delvin yang tidaklah pernah Gianna dengar ketika kedua matanya ini terbuka. Dia begitu lemah lembut dan terdengar sangat menyayangi wanita yang sudah pasti adalah istri sahnya.
"Aku baru bangun. Semalam lelah sekali rasanya. Mungkin karena perjalanan jauh yang harus aku tempuh."
Gianna menahan diri untuk tidak tersenyum. Dasar laki-laki, sayang istri tapi malah tidur seranjang dengan wanita lain. Kalau ia punya suami yang benar-benar tulus mencintainya. Ia tidak akan mau bila laki-laki itu macam-macam di belakangnya. Tapi sayang, tapi juga tega main belakang.
Lucunya dia ini.
Suara Delvin sudah tidak lagi terdengar. Hanya suara ponsel yang diletakkan pada nakas lah yang sempat Gianna dengar serta gelombang gerakan ranjang, yang berakhir pada sebuah sentuhan yang Gianna rasanya di tubuhnya.
Sentuhan ini bukanlah hanya sentuhan biasa. Ia merasa ada sesuatu yang hangat dan sedikit kasar sedang meraba tubuhnya, juga deru suara nafas yang tersengal-sengal yang menyapu di sekitaran indra pendengaran Gianna hingga bulu kuduknya menegang.
"Jangan pura-pura tidur, masih ada ronde yang berikutnya," bisik Delvin hingga Gianna spontan membuka kelopak matanya lebar-lebar.