Ketahuan

1688 Words
Delvin keluar dari kamar mandi, setelah ia membersihkan dirinya di dalam sana. Sedangkan Gianna sendiri, masih terkapar di atas ranjang dengan bahu serta punggung polos yang terekspos dan sisanya tertutupi selimut berwarna abu-abu. Gianna terlihat sedang menggigit jemari tangannya sendiri karena merasa semua yang terjadi tadi adalah sebuah mimpi buruk. Katanya tidak akan datang, karena kondisi istri sahnya sudah mulai membaik. Tapi rupa-rupanya, dia malah datang mendadak tanpa mengatakan apa-apa dan main langsung menyergapnya saja. Bingung harus melakukan apa sekarang. Takutnya kesalahan yang tadi malah membuahkan hasil. Kalau sampai hal itu terjadi, bagaimana dengan nasibnya? Hutangnya belum lunas dan ia juga belum sempat memiliki tabungan. Kalau dibicarakan dengan orang yang sedang sibuk mencari pakaiannya di dalam lemari, apa dia tidak akan murka? Waktu itu saja marahnya sudah seperti orang yang kesetanan. Dia pasti menyalahkannya dan juga menghakiminya tanpa ampun. Oh ya ampun. Sepertinya sekarang, ia hanya bisa berharap agar hal yang satu itu tidaklah terjadi. Kalau sampai benar-benar terjadi, semakin hancurlah hidupnya. Mereka menikah tanpa cinta dan hanya atas dasar kesepakatan bersama saja. Kalau sudah bosan, kontraknya berakhir dan ia tidak tahu kapan hal itu akan benar-benar terealisasikan. "Rapikan tempat ini. Baru ditinggalkan beberapa hari, malah sudah seperti kandang binatang," ucapan Delvin sambil mengenakan kemeja putih yang dia ambil dari dalam lemari pakaian. Gianna melipat bibirnya dan kemudian mengangguk paham. "Iya, Mas. Nanti aku rapikan." "Ya sudah. Aku pulang dulu." Lagi. Delvin meninggalkannya begitu saja setelah puas. Persis seorang wanita bayarann dan hal itu juga yang membuat penyesalannya semakin memuncak. "Bodoh banget sih, Gi." Gianna mengusap wajahnya sendiri sambil berdecak kesal juga. Resiko tenggelam dalam sebuah hubungan yang tidak semestinya dan sekarang, ia malah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia juga tidak mau, bila harus hidup terus menerus bersama dengan pria yang tidaklah menganggap dirinya ada. Sudahlah. Apapun itu resikonya harus bisa ia terima. Toh belum tentu juga terjadi. Gianna bangun dari atas ranjang dan menapakkan sepasang kakinya di lantai. Lantas ia menyeret selimut yang membelit tubuhnya itu dan membawanya ke dalam kamar mandi. Sedangkan lelaki yang telah pergi tadi, kini sudah tiba di kediamannya lagi saja. Untunglah, ada tempat penyaluran lain. Jadi ia tidak perlu uring-uringan juga, karena sang istri yang sepertinya belum benar-benar bisa melayaninya. Kelopak mata Delvin tertutup rapat saat ia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lelah dan juga mengantuk hingga membuat Delvin terlelap di sana. Wanita yang tadinya memantu dari jendela kamar itu pun turun dan lantas mendekati sosok tubuh suaminya yang tergeletak di atas sofa ini. "Mas?" panggil Gretha dan Delvin yang sudah terlelap itupun tersentak kaget, lalu cepat-cepat bangun ketika melihat Gretha yang sedang berdiri di sisinya. "Eh, Sayang. Kok kamu di sini? Kenapa? Haus? Atau lapar?" "Nggak. Aku cari kamu, Mas. Pas aku bangun, kamu tiba-tiba udah nggak ada. Kamu darimana aja, Mas?" tanya Gretha dan senyuman untuk menutup-nutupi hal yang sebenarnya itu pun muncul lagi. "Biasalah. Ada urusan dengan klien. Tadi aku bertemu dengan klien dulu." Dahi Gretha mengerut sambil memperhatikan setelan pakaian suaminya ini yang berubah. "Mas, kayaknya tadi nggak pakai pakaian yang itu." "Oh ini, ya aku ganti dulu sebelum pergi. Kamu tidur aku ganti baju. Terus berangkat. Ya masa ketemu klien cuma pakai kaos saja. Ya harus rapi. Minimal pakai kemeja. Iya 'kan?" Delvin kira kebohongannya telah sempurna. Tapi dia tidak tahu, bila ada satu celah kecil saja, yang bisa membuat semuanya menjadi fatal. "Iya ya? Ya udah. Aku mau ke kamar lagi." Gretha berbalik tapi sebelum melangkah pergi, Delvin sudah lebih dulu merangkul bahunya. "Yuk, aku antar ke kamar," ucap Delvin. Gretha malah melepaskan rangkulan tangan sang suami dan menaruh perlahan di samping tubuh Delvin itu sendiri. "Nggak usah, Mas. Aku sendiri aja." Gretha lanjutkan langkahnya yang tadi. Dia naik ke lantai atas dengan tergesa-gesa dan naik ke atas tempat tidur ketika sudah sampai di atas. Gretha tidur menyamping sambil menjadikan dua telapak tangannya sebagai ganjalan kepala. Giginya menggertak dan nafasnya nampak tersengal-sengal. Ada bulir air bening yang sempat muncul di penghujung mata, tapi cepat-cepat Gretha seka. Jangan dulu menuduh yang bukan-bukan, kalau belum mendapatkan bukti yang akurat. Karena kalau ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya tadi, ia benar-benar sudah salah menduga juga kan. Gretha putuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lagi. Selain alasan kesehatan. Ia juga tidak mau membebani pikirannya sendiri. Stres dan ujung-ujungnya malah membuatnya drop lagi. Ia harus fokus pada kesehatannya dan dengan begitu, ia bisa menyenangkan suaminya sendiri dan melaksanakan kewajibannya yang selama ini tidak bisa ia lakukan. Beberapa pekan berlalu. Semuanya berjalan dan terlihat normal memang. Karena Gretha beranggapan semua hal yang dilakukan suaminya itu sudah biasa. Seringkali pergi ke luar dan kembali satu sampai dua jam setelahnya. Tidak berpikir jelek sama sekali atau memang sengaja tidak mau berpikiran ke arah sana. Hingga suatu hari, saat sang suami pergi mandi. Gretha yang duduk di atas ranjang sambil membaca buku itu mendengar suara dentingan pada ponsel suaminya. Gretha terusik. Inginnya menelisik tapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Bukan takut kena marah. Tapi lebih takut menemukan hal-hal yang paling tidak ia inginkan. Gretha kembali disibukkan dengan buku tebal yang ada di genggaman tangannya. Sepasang bola matanya memang tertuju pada isi dari buku itu. Tetapi pikirannya terpaku pada ponsel yang suaminya tinggalkan di atas nakas sana. Tak kuat. Pertahanannya runtuh sudah. Gretha meninggalkan bukunya sesaat dan menyabet ponsel yang ada di atas nakas sana. "Lho kok pakai password?" Dahi Gretha mengernyit. Hal ini bukanlah kebiasaan suaminya. Gretha coba buka kunci tersebut dengan tanggal ulang tahun sang suami tetapi gagal. Gretha berpikir sejenak dan membuka dengan tanggal pernikahan mereka tapi gagal lagi. Hanya tinggal satu kali kesempatan dan kalau gagal lagi, pasti akan terblokir ponselnya ini. Gretha ragu. Tapi ia sudah penasaran setengah mati. Tidak tahu kenapa, ia ingin sekali melihat isinya. Yang terakhir dan Gretha coba untuk memasukkan tanggal ulang tahunnya sendiri dan saat itu juga kunci ponsel terbuka. Sempat senang, karena sang suami melibatkannya juga dalam hal semacam ini. Namun, temuan yang Gretha dapatkan selanjutnya, malah membuat dia merasa semua itu tidaklah ada gunanya. [Mas, jadi ke sini? Aku mau pulang ke rumah orang tuaku dulu soalnya. Mau jenguk Mama. Mama sakit katanya.] Gretha mengernyit keheranan. Saat melihat rangkaian kata-kata yang terlihat begitu akrab. Dan yang membuatnya heran, kata-kata ini malah dikirimkan oleh seorang wanita yang tidak asing namanya. Nama yang sempat suaminya katakan, bila dia itu adalah seorang sekretaris di kantor. Jadi, sekretaris mana yang menghubungi atasan sendiri tapi menggunakan kata panggilan yang akrab begitu? Sementara di apartemen. Wanita yang mengirimkan pesan dan dilihat oleh istri sah tadi, kini tengah berada di dalam kamar mandi. Dia membungkuk di depan wastafel dan sedang menguras makanan yang tadi sempat masuk ke dalam perutnya, yang kini tengah bergejolak. "Uwek! Uwek!" Gianna membasuh mulutnya sendiri dan menyekanya dengan sebuah handuk kecil. Tangannya terlihat gemetar dan dia juga terlihat gugup serta uring-uringan sendiri. Firasatnya sedang tidak enak dan sedang ia coba buktikan dengan suatu benda yang dibelinya saat baru pulang bekerja tadi. "Ah masa sih? Tapi, kalau nggak dicoba gimana? Ck, coba ajalah!" Gianna menampung air seninya sendiri pada sebuah wadah dan lantas mencelupkan benda yang baru ia buka dari pembungkusnya. Lantas Gianna menunggu beberapa saat sampai hasilnya keluar. Sementara itu di kediaman Delvin. Delvin yang baru selesai mandi itu pun mengambil pakaian dari dalam lemari dan dia kenakan sambil menatap wanita yang tergeletak di atas tempat tidur sana dan tengah terpejam kedua matanya. Seperti kebiasaan Delvin akhir-akhir ini, ia akan pergi saat pujaan hatinya terlelap dan sekarang lah saatnya. Delvin mengambil kunci mobil maupun handphone miliknya dari atas nakas. Lantas dia terburu-buru pergi, hanya untuk menyalurkan keinginannya itu dan akan segera kembali sebelum sang istri bangun dan mencarinya. Sementara itu di apartemen. Gianna tengah berjongkok di dalam kamar mandi. Raut wajahnya terlihat amat sangat frustasi sambil memegang benda pipih yang memiliki dua garis merah yang awalnya tidak ada dan saat muncul, kebingungan Gianna juga menyerang. "Duh! Kenapa jadi begini sih!?" keluh Gianna. Apa yang ia takutkan akhirnya malah terjadi. Ingin menelepon dan mengadu kepada orang yang membuat jadi begini, tapi ia sudah diwanti-wanti untuk tidak menelepon saat dia sedang berada di rumah. Gianna rapikan semua kekacauan ini dan menunggu di sofa. Saat di kantor tadi, dia bilang akan menyusul ke sini. Coba lihat dan tunggu saja dulu dan saat dia datang nanti, ia akan membeberkan semuanya dan meminta solusi dari masalah yang tengah ia hadapi sekarang. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit sambil melamunkan tentang masa depan, pintu apartemen ini pun terbuka. Gianna cepat-cepat turun dari atas sofa dan menunggu sosok itu datang menghampirinya. "Mas, aku..." Gianna baru akan bicara tapi mulutnya ini malah dibungkam dan tubuhnya sudah mulai diraba-raba. "Mas! Kita perlu bicara!" seru Gianna tapi kembali dibungkam lagi saja mulutnya oleh lelaki yang sedang dikendalikan oleh nafsunya itu. "Diamlah. Biarkan aku menuntaskan keinginanku dulu." Kata-kata yang Delvin ucapkan dan Gianna pun diam serta membiarkan Delvin membawanya ke atas ranjang. Sementara di luar, ada seseorang yang nampak ragu untuk masuk dan sedang memikirkan kode akses yang sama seperti kode untuk mengakses ponsel juga. Ingin menekan, tetapi takut. Tapi buat apa jauh-jauh membuntuti hingga ke sini dan hanya untuk pulang lagi tanpa mendapatkan kebenaran yang mungkin saja pahit. Ah, tidak mungkin. Suaminya tidak mungkin mengkhianatinya kan? Dia begitu mencintainya dan selalu menemani... Gretha terdiam kaku. Akhir-akhir ini, suaminya memang selalu pergi secara diam-diam. Bukan tidak mungkin, bila ada sesuatu yang dia sembunyikan dan untuk mengetahui hal apa yang dia sembunyikan, Gretha mulai menekan angka yang sama yaitu tanggal kelahirannya sendiri. Sementara di dalam apartemen tersebut. Gianna sedang menutup erat kelopak matanya saat merasakan kain penutup di atas tubuhnya mulai diturunkan. Jantungnya berdegup dengan lebih kencang, bukan hanya karena setiap sentuhan yang ia terima tetapi hal yang sudah sangat ingin ia sampaikan ini sudah terlalu sesak dalam memenuhi isi kepalanya. Desahan dari pria yang ada di atas tubuhnya dan sensasi yang sudah tidak lagi asing itu membuat Gianna menggigit bibir bawahnya sendiri. Namun yang terjadi setelahnya membuat Gianna terbelalak kaget. Suara yang kencang nan melengking yang keluar dari mulut seorang wanita, yang tidak Gianna tahu itu siapa. "Mas! Apa yang kamu lakukan!!" seru Gretha yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, suami yang ia kira benar-benar mencintainya tapi malah bermain api bersama dengan wanita idaman lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD