Bab 90-Terlalu Pahit 2

1458 Words

Malam itu, sesaat setelah Ersya merasa kecewa karena Sora, Ersya tidak tahu lagi harus melakukan apa. Tampilannya sangat kacau. Ia menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia tidak mungkin pulang saat ini, butuh waktu untuk menenangkan diri tanpa Sora. Tujuannya hanya satu saat ini. "Ersya?" Pria paruh baya itu terkejut setengah mati saat mendapati menantu satu-satunya berdiri dengan penampilan kacau di depan pintu rumahnya. "Ada apa, Sya? Apa yang terjadi? Sora mana?" Brakkk Sakti dibuat makin terkejut saat tiba-tiba saja Ersya bersimpuh di kakinya. Sebagai seorang ayah, Sakti bisa merasakan sesuatu. Putrinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Sya, bilang sama Papa, ada apa! Sora di mana? Apa terjadi sesuatu sama dia?" Ersya menggeleng. Air mata yang sudah setenga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD