Detik demi detiknya, terisi suara detak jam didinding yang jadi latar suara di ruang kerja CEO Sadajiwa setelah serangan luapan emosi salah satu sahabat terdekatnya. Tatapan tajam mendominasi, seolah mewakili perang dingin antara keduanya yang akhirnya pecah. Udara dingin menggelitik kulit terbuka mereka, dinginnya bukan hanya dari pendingin ruangan tapi situasinya. Dante tak menduga akan dapat serangan pukulan hari ini dari Omara. wajahnya berdenyut namun tidak Dante terlalu anggap. Sakitnya tidak seberapa, justru seolah mewakili dirinya sendiri yang sejak lama ingin menyakiti diri sendiri atas pilihan yang tak selaras dengan batinnya. Omara masih berdiri di tempat sama, sepasang mata tajamnya menatap Dante. Sedangkan kedua tangannya masih mengepal hingga urat-urat tangannya terliha

