Hujan deras mengguyur Makassar malam itu. Jalanan becek, kilat sesekali menyambar, membuat langit tampak muram. Dante berdiri di depan jendela hotel, menatap lekat cahaya lampu kota yang tampak bergetar karena kaca ditimpa butiran hujan. Tangannya meremas ponsel, layar masih menampilkan pesan terakhir yang ia kirim untuk Reema. Tapi balasan tidak kunjung datang. Itu wajar, karena Reema belum sadar, namun hati Dante makin kalut. Pikiran buruk terus menghantui. Bagaimana kalau kondisinya memburuk sementara ia terjebak jauh di sini? Dante menggeram, meraih jas hitam yang tergeletak di kursi, lalu langsung keluar kamar dengan langkah lebar. "Belum pernah aku merasa setidak berguna ini," gumamnya. Ia memiliki uang dan kekuasaan. Namun, ia bahkan tidak bisa menunggui istrinya yang sedang sa

